Pernah ngerasa bingung mau ke pantai yang katanya bagus tapi takut jalannya bikin mobil keseleo? Gue pernah. Pas rencana ke Trikora Bintan, otak langsung nyangkut di satu pertanyaan: “Jalannya dahsyat nggak sih?” Tenang, gue udah jadi kelinci percobaannya. Ini cerita lengkap plus spot foto terbaru yang bakal bikin feed lo meledak.
Kondisi Jalan: Kenyataan di Lapangan
Dari Tanjung Pinang, jaraknya sekitar 45 kilometer. Butuh waktu sekitar 1,5 jam kalau lo nyetir normal. Jalan utama aspalnya udah cukup mulus, tapi jangan seneng dulu. Ada sekitar 5 kilometer sebelum sampai pantai yang agak rusak, bolong-bolong kecil gitu. Nggak parah-parah amat, tapi cukup buat nyuruh lo nurunin kecepatan.
Kalau lo naik motor, lebih enak. Bisa nyelip-nyelip. Tapi hati-hati sama truk kelapa sawit yang lewat. Mereka kadang ngebut kayak punya jalan sendiri. Gue saranin datangnya siang atau sore, hindari jam 6-8 pagi karena macetnya truk pengangkutan.
Jalur Alternatif Lewat Desa
Ada jalan tikus lewat desa-desa yang bisa motong waktu 15 menit. Tapi lo harus tanya sama warga. Gue nyasar pas pertama kali, malah muter-muter ke perkebunan kelapa sawit. Serem sih, tapi pemandangannya authentic banget. Bener-bener nuansa pedalaman.
Tiket Masuk dan Biaya: Update 2024
Yang paling ditunggu: berapa duit yang harus siapin? Tiket masuk Rp 10.000 per orang. Itu harga resmi dari pengelola. Parkir motor Rp 5.000, mobil Rp 10.000. Nggak ada lagi biaya tambahan buat masuk area gazebo atau spot foto.
Bandung-bandingin sama pantai lain di Bintan, Trikora termasuk yang paling murah. Pantai Lagoi aja bisa nyampe Rp 25.000-50.000 per orang plus parkir mahal. Di Trikora, lo masih bisa ngerasain pantai alami tanpa harus jebolin tabungan.
Fasilitas yang Didapat
Dengan 10 ribu itu, lo dapet akses ke toilet umum (standar lah, bukan hotel), area parkir yang luas, dan beberapa gazebo untuk istirahat. Tapi jangan harap ada wastafel air bersih yang melimpah. Biasanya airnya agak payau. Bawa wet tissue dan hand sanitizer itu wajib hukumnya.
Spot Foto Paling Kece: Bikin Feed Hidup Lagi
Sekarang masuk ke bagian paling seru. Trikora itu panjang banget, ada 4 segmen yang biasa dikunjungi: Trikora 1 sampai Trikora 4. Trikora 1 paling ramai, Trikora 4 paling sepi. Gue rekomen Trikora 3 buat yang mau vibenya seimbang: nggak sepi tapi nggak rame.
Gazebo Tua di Ujung Timur
Di Trikora 3, ada gazebo tua yang kayunya udah kecoklatan. Posisinya menghadap langsung ke laut. Waktu sunrise, sinyaunya nempel di tiang-tiang gazebo, bikin silhouette yang epik. Gue ambil foto dari samping kiri, hasilnya kayak di Bali. Koordinatnya sekitar 100 meter dari gerbang masuk utama.

Pohon Kelapa Solo
Mau foto ala-ala surfer di Hawaii? Cari aja pohon kelapa yang berdiri sendiri di area tengah Trikora 2. Pohonnya miring sedikit ke laut, jadi kalo lo foto dari bawah, keliatan gagah banget. Ini spot favorit buat pre-wedding. Gue lihat 3 pasang calon pengantin pas weekend lalu.
Jeep Pantai yang Ditinggalkan
Ini yang baru. Ada jeep tua warna merah karatan di Trikora 4. Ditinggalin sama warga, sekarang jadi properti foto gratis. Posisinya pas di bibir pantai, jadi pas ombak dateng, lo bisa foto dengan air yang nge-splash di ban jeep. Kerennya lagi, jeepnya menghadap ke timur, jadi pas sunrise, kombinasi warnanya insane.
Pengalaman Nyata di Pasir
Pasir di Trikora putih tapi agak kasar, bukan yang lembut kayak tepung. Jadi kalo mau jogging, sepatu tetap jadi teman terbaik. Ombaknya cukup besar, jadi nggak aman buat anak kecil main jauh dari bibir. Gue lihat beberapa kali ada penjaga pantai yang nyuruh orang-orang mundur kalau ombak lagi ganas.
Suasanya Saat Sunset vs Sunrise
Untuk foto, sunrise is the king. Jam 5.45 AM matahari mulai menyembul. Langitnya berubah dari ungu gelap jadi oranye terang dalam 15 menit. Sunset di sini juga oke, tapi posisinya di balik bukit, jadi nggak full. Gue lebih suka dateng pagi-pagi buta, sepi, dan udara masih segar.
Penjual Lokal dan Harga
Ada ibu-ibu yang jualan kelapa muda harga Rp 15.000. Mahal? Ya iya, tiga kali lipat dari harga pasar. Tapi bayangin minum kelapa langsung sambil denger suara ombak. Worth it. Ada juga yang jual seafood bakar, tapi harganya nggak terlalu murah. Ikan kembung bakar Rp 35.000.
Tips Praktis buat Traveler
Biar lo nggak ngulik kesalahan gue, ini checklist wajib:
- Bawa uang cash. Sinyal di sini payah, QRIS sering error.
- Pakai sepatu yang kuat. Pasir panas dan kadang ada kerang tajam.
- Dateng minimal jam 5.30 AM buat ngejar sunrise. Gerbang udah buka.
- Hati-hati sama air pasang. Di Trikora 4, pasangnya cepet banget.
- Bawa power bank. Sinyal lemah, baterai boros nyari sinyal.
Oh iya, satu lagi. Jangan lupa bawa tas sampah kecil. Tempat sampah di pantai masih terbatas. Gue lihat beberapa visitor yang bener-bener sadar lingkungan, bawa sampahnya pulang. Salut.
Kesimpulan gue: Trikora itu pantai yang masih “jujur”. Nggak terlalu komersil, harga terjangkau, dan punya spot foto unik yang terus berkembang. Cocok buat lo yang bosen sama pantai mainstream dan mau nyari suasana yang lebih lokal.

Terakhir, gue mau bilang: pantai ini nggak sempurna. Fasilitasnya masih basic, jalan rusaknya bikin kesel. Tapi justru itu yang bikin Trikora beda. Lo bakal ngerasain pantai yang masih dijaga sama warga sekitar, bukan mega proyek resort. Dan buat gue, itu lebih berharga dari fasilitas mewah tapi kehilangan soul.




