Denger kata Nias, lo pasti langsung mikir: ombak gede, surfer dari seluruh dunia, pantai buat yang punya papan selancar doang. Gue juga gitu sih sebelum kesana. Bayangin kagetnya pas nyampe di Pantai Sorake, ternyata vibe-nya jauh lebih chill dan ramah buat yang cuma bawa diri aja—tanpa papan. Ternyata, pantai ini punya banyak hal buat non-surfer, asal lo tahu aja caranya.

Pertama Kali Nyampe: Suasana yang Nggak Gue Duga

Gue nyampe sore-sore buta, setelah perjalanan darit dari Bandara Binaka sekitar 2 jam. Langsung disambut jalanan tanah yang berdebu, sinyal HP mulai ilang-ilangan, dan suara ombak yang makin keras dari kejauhan. Tapi begitu keluar dari mobil, bau asin laut langsung nampar, dan panorama itu… duh, gue langsung lupa capek.

Pantainya sendiri panjangnya sekitar 1,5 kilometer, dengan pasir cokelat keemasan yang lembut. Ombaknya memang gede—bisa sampe 3-5 meter kalo lagi bagus—tapi itu justru jadi entertainment gratis. Lo bisa duduk berjam-jam cuma ngeliat surfer-surfer luar negeri yang nyoba nge-tame ombak The Point yang legendaris itu.

Fasilitas: Jangan Harap Bintang Lima, Tapi Semua Ada

Kalo lo nyari resort mewah dengan AC dan kolam renang infinity, mungkin Sorake bukan tempatnya. Tapi kalo lo cuma butuh tempat tidur nyaman, makan enak, dan koneksi (walau kadang lemot), semua tersedia.

Penginapan: Dari Losmen 100 Ribu Sampe Villa 1 Jutaan

Pilihan penginapan di sekitar Pantai Sorake sangat bervariasi. Mulai dari losmen lokal yang harganya cuma Rp100.000-150.000/malam, biasanya tanpa AC tapi ada kipas angin dan kamar mandi luar. Sampe ke guest house yang lebih modern kayak Sorake Homestay atau KeyHole Surfcamp yang tarifnya sekitar Rp300.000-500.000/malam dengan AC dan WiFi.

Baca:  Trip Ke Pulau Pahawang Lampung: Review Open Trip Vs Jalan Sendiri (Budget Breakdown)

Ada juga beberapa villa privat yang bisa di-sewa untuk kelompok, harganya sekitar Rp1.200.000-2.000.000/malam. Semua lokasinya nggak pernah jauh dari pantai, paling cuma 2-5 menit jalan kaki.

Makan: Warung Lokal & Seafood Segar

Yang paling gue suka, banyak warung kecil yang buka dari pagi sampe malem. Harga makan super ramah di kantong: nasi goreng Rp15.000, mie goreng Rp12.000, dan jus alpukat Rp10.000. Kalo mau seafood, tinggal pesan aja ikan atau cumi-cumi segar yang biasanya dipancing pagi-pagi. Harganya sekitar Rp30.000-50.000 per porsi, tergantung ukuran.

Pro tip: Warung Mba Ida di sebelah kanan jalan masuk pantai punya sambal dabu-dabu yang mantap banget. Gue bisa nambah nasi dua kali cuma gara-gara itu.

Aktivitas Buat Non-Surfer: Bukan Cuma Duduk-Duduk Doang

Ini yang bikin gue excited. Meski nggak selancar, gue tetep sibuk selama 3 hari di sana.

  • Sunset watching: Matahari tenggelam di Sorake itu spektakuler. Warna oranye-merah yang melebar sampe ke langit, sambil denger suara ombak. Spot terbaik di ujung pantai sebelah kiri, di dekat bebatuan.
  • Beachcombing & fotografi: Pasirnya luas banget, perfect buat jalan-jalan pagi. Banyak bebatuan unik, kerang, dan coral kering yang bisa jadi objek foto. Gue habisin satu SD card cuma buat motoin detail batu-batu yang licin.
  • Snorkeling di Teluk Lagundri: Kalo ombak lagi nggak terlalu gede, area teluk di sebelah kanan pantai punya spot snorkeling yang cukup bagus. Gue lihat banyak ikan kecil dan koral yang masih sehat. Bisa sewa peralatan di warung sekitar, Rp50.000-75.000 per set.
  • Explore desa sekitar: Jalan-jalan ke kampung Nias di sebelah pantai. Rumah-rumah adatnya masih ada, dan warganya super ramah. Gue diajak ngobrol sama seorang bapak yang cerita tentang sejarah The Point.
  • Trekking ke Air Terah Sorake: Ada air terjun kecil sekitar 30 menit jalan dari pantai. Jalannya melewati perkebunan kelapa dan sawah. Airnya jernih banget, bisa buat mandi. Gratis, cuma butuh guide lokal (biasanya bayar Rp50.000).
Baca:  Pantai Klayar Pacitan: Fenomena Seruling Samudera Dan Akses Jalan Untuk Bus

Kondisi Pantai: Pasir, Ombak, dan Kebersihan

Pasir di Sorake cokelat keemasan, lembut, tapi agak panas kalo siang. Ombaknya memang dominan, jadi nggak recommended buat anak kecil mandi bebas. Tapi ada area teluk yang lebih tenang di sebelah kanan, cocok buat sekadar basah-basahan.

Kebersihan? Lumayan lah. Karena belum terlalu ramai turis mainstream, sampah plastik masih minim. Tapi gue lihat beberapa warung yang masih buang sampah sembarangan. Untungnya ada beberapa komunitas lokal yang rutin bersih-bersih.

Budget & Transport: Gimana Cara Kesana?

Transportasi terbesar ya tiket pesawat ke Bandara Binaka (Gunungsitoli). Dari Jakarta, biasanya transit di Medan atau langsung dengan Wings Air sekitar Rp1.200.000-1.800.000 pp.

Dari bandara ke Sorake, lo bisa sewa mobil (Rp400.000-500.000) atau naik angkot (Rp30.000-50.000) turun di Teluk Dalam, terus naik ojek (Rp20.000). Total perjalanan sekitar 2-2,5 jam.

Budget harian untuk non-surfer yang backpacker style sekitar Rp150.000-250.000 sudah cukup buat makan, minum, dan transport lokal. Kalo mau lebih nyaman, siapkan Rp300.000-400.000 per hari.

Catatan Penting: ATM terdekat ada di Gunungsitoli, jadi bawa cash yang cukup. Hanya beberapa penginapan dan warung besar yang terima transfer, selebihnya cash only.

Verdict: Cocok Nggak Buat Non-Surfer?

Jawaban singkat: Cocok banget, asal lo tahu ekspektasi.

Sorake itu bukan destinasi all-inclusive resort. Ini tempat buat lo yang bener-bener pengen disconnect dari kebisingan kota, denger suara alam, dan nikmatin kehidupan sederhana. Ombaknya memang bintang utamanya, tapi pemandangan, kultur lokal, dan vibe-nya yang slow itu bonus besar.

Kalo lo suka fotografi, alam, atau cuma pengen duduk di pasir sambil baca buku dengan backsound ombak, Sorake lebih dari cukup. Tapi kalo lo butuh hiburan malam, mall, atau fasilitas kelas atas, mending cari tempat lain.

Gue sendiri nggak pernah pegang papan selancar, tapi 3 hari di sana rasanya kurang. Malah sekarang gue pengen balik lagi, mungkin cuma buat dengerin ombak dan makan ikan bakar di warung pinggir pantai. Kadang, itu aja sudah cukup buat bahagia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Pantai Panjang Bengkulu: Kenapa Dilarang Berenang? Ini Alternatif Aktivitasnya

Gue masih inget betul perasaan kecewanya pas pertama kali nyampe di Pantai…

Pantai Papuma Jember: Hati-Hati Monyet Liar? Review Keamanan & Warung Makan

Ketika pertama kali denger soal Pantai Papuma, yang terlintas justru bukan ombaknya…

Pantai Klayar Pacitan: Fenomena Seruling Samudera Dan Akses Jalan Untuk Bus

Pacitan memang surganya pantai-pantai cantik di Jawa Timur. Tapi kalau kamu pernah…

Review Karimunjawa Via Jepara: Mabuk Laut Di Kapal Feri Vs Kapal Cepat Express

Jadi, kamu lagi ngidam banget ke Karimunjawa, tapi bingung mau naik kapal…