Pernah liat foto Pantai Pink di Instagram yang warnanya merah muda pastel bikin ngiler? Aku juga. Makanya, tanpa pikir panjang, aku nekat ngajak temen-temen buat nge-roadtrip ke sana. Tapi, realitanya? Warna pasir nggak se-pink ekspektasi, dan medan jalannya… gila, itu perjuangan banget! Tapi tenang, setelah sampai sana, semua rasa lelah itu worth it—kalau kamu tahu triknya.

Warna Pink: Mitos, Fakta, dan Realita di Lapangan

Jangan percaya filter Instagram. Pasir pink di sini berasal dari percampuran pasir putih dengan serpihan koral merah muda. Tapi hasilnya lebih ke arah subtle pink atau pink pudar, bukan Barbie pink.

Pagi hari sekitar jam 7-9, pasirnya paling pink. Sinar matahari mendatar bikin warnanya keluar. Siang bolong? Lupa deh, hampir putih semua. Aku sampai jam 10 pagi, dan warnanya udah mulai pudar. Kecewa sih sedikit, tapi tetep cantik.

Faktor yang Mempengaruhi Warna

  • Cahaya matahari: Pagi dan sore adalah kunci. Cahaya tengah hari “membunuh” warna pink.
  • Kondisi pasir: Pasir basah lebih pink daripada kering. Ombak yang baru lewat bikin garis-garis pink di bibir pantai.
  • Cuaca: Setelah hujan warna lebih pudar karena koral terbawa air.
  • Pasang surut: Pasang naik bikin pasir lebih basah = warna lebih keluar. Pasang turun = lebih kering.

Medan Jalan: Perjuangan Sebelum Surga

Dari Mataram jaraknya sekitar 80 km, tapi butuh 2,5-3 jam. Kenapa? 15 kilometer terakhir itu neraka beneran.

Baca:  Review Pantai Amal Tarakan: Spot Makan Kapah (Kerang) Sambil Lihat Laut

Jalan tanah, batu kerikil, tanjakan curam 45 derajat, turunan tajam. Aku naik motor bebek manual, masih sempet nyangkut dua kali di tanjakan. Pernah aku lihat motor matic tersangkut di batu, harus didorong 5 orang. Debu tebal, batu-batu tajam, dan lubang gede kayak lubang buaya.

Untuk nyaman, sewa motor trail atau mobil 4WD. Kalau naik motor matic, skill off-road wajib. Biaya sewa motor trail di Sekotong sekitar Rp 150 ribu per hari. Mobil 4WD dari Mataram bisa Rp 600-800 ribu include driver.

Detail Perjalanan yang Perlu Kamu Tahu

SPBU terakhir ada di Sekotong, habis itu nggak ada lagi. Jalan mulai rusak parah setelah Desa Jerowaru. Aku hitung ada 3 tanjakan ekstrem dan 2 turunan yang bikin jantung copot. Waktu terbaik lewatin? Jam 7-8 pagi, jalan masih basah embun, jadi lebih nempel.

Suasana di Pantai: Sepi, Indah, dan Bikin Betah

Sampai sana, pantainya sepi. Cuma ada 5-6 orang lain. Ombang-ambing, angin sepoi, dan suara ombak doang yang dengerin. Aku langsung lepas sepatu, terjunin kaki ke pasir. Dingin, halus, terus rasanya pasirnya beda—lebih kasar sedikit karena ada serpihan koral.

Airnya jernih banget, transparansi 10 meter. Terumbu karang di dekat bibir pantai, jadi snorkeling bisa langsung dari sana. Aku lihat ikan-ikan kecil warna-warni. Snorkeling gear sewa Rp 25 ribu di warung terdekat. Bawa sendiri lebih higienis sih.

Fasilitas? Minim. Ada 2 warung kecil jual mie instan dan kelapa muda. Harga? Kelapa muda Rp 15 ribu, mie instan Rp 10 ribu. Bawa bekal sendiri lebih aman. Toilet umum ada, tapi bayar Rp 5 ribu. Bersih sih, tapi airnya kadang mati.

Baca:  Review Kepulauan Derawan: Menginap Di Water Villa Vs Homestay Darat (Perbandingan Harga)

Tips Jitu yang Beneran Berguna

  • Bensin penuh sebelum masuk jalan terakhir. SPBU terakhir di Sekotong.
  • Bawa spare inner tube ban motor. Pernah lihat orang kena pecah ban di tengah jalan.
  • Start pagi-pagi buta dari Mataram. Biar sampai sana jam 8, foto-foto, terus balik sebelum siang panas.
  • Pakai sepatu boot kalau motor. Jalan tanahnya licin dan berbatu.
  • Cek kondisi pasang surut. Pasang naik jam 9 pagi = snorkeling bagus.
  • Bawa uang cash karena nggak ada ATM dan sinyal lemah.
  • Paketin makan siang dari Mataram. Pilihan makanan di sana terbatas.
  • Kaca mata dan masker debu wajib kalau naik motor. Debu di jalan terakhir parah banget.

Kapan Waktu Terbaik?

Bulan April-Oktober adalah musim kering. Jalan lebih mudah, tapi debu lebih banyak. Desember-Februari? Hujan deras bisa bikin jalan lumpur dan super licin. Aku pergi bulan Mei, debu bikin hitam baju, tapi jalannya kering dan nggak licin.

KondisiWarna PasirWaktu TerbaikAktivitas
Pagi (07:00-09:00)Pink paling terangFoto landscapeFoto, jalan-jalan
Siang (10:00-14:00)Hampir putihSnorkelingSnorkeling, istirahat
Sore (16:00-18:00)Pink lembutFoto siluetFoto, sunset

Pantai Pink Lombok itu bukan untuk semua orang. Kalau kamu nyaman dengan perjalanan ekstrem dan ekspektasi realistis soal warna, ini surganya. Tapi kalau nyari pantai easy-access dengan fasilitas lengkap, skip aja. Worth it? Buat aku, iya—tapi sekali aja cukup. Buat yang suka challenge, bakal balik lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Pantai Temajuk “Ekor Borneo”: Perjalanan 12 Jam Dari Pontianak, Worth It?

Dua belas jam. Itu waktu yang cukup buat nonton Lord of the…

Review Nihiwatu Beach Sumba: Mengintip Pantai Termahal Di Dunia (Bisa Masuk Tanpa Menginap?)

Denger nama Nihiwatu Beach itu langsung mikir: “Wah, pasti mahal banget.” Pantai…

Pantai Manggar Segara Sari Balikpapan: Review Fasilitas Toilet & Area Parkir

Balikpapan punya banyak pantai, tapi kalau bicara soal Manggar Segara Sari, yang…

Review Kepulauan Derawan: Menginap Di Water Villa Vs Homestay Darat (Perbandingan Harga)

Derawan itu cantik, tapi pilihan akomodasinya bisa bikin pusing. Water villa yang…