Denger-denger Senggigi lagi sepi banget sekarang, katanya wisatawan udah pada kabur ke Gili atau Kuta Mandalika. Gue baru aja kesana minggu lalu, dan bingung juga mau bilang apa – soalnya jawabannya nggak hitam-putih kayak yang banyak orang ngomongin.
Lu pasti kecewa kalo nyampe pantai tapi cuma ketemu bangkai kapal Fatahillah dan warung tutup. Tenang, gue ceritain semua apa adanya biar lu bisa nentuin sendiri worth it atau nggak buat masukin ke itinerary.
Kondisi Terkini: Sepi tapi Nggak Mati
Gue nyampe Senggigi jam 9 pagi, hari Sabtu. Harusnya sih ramai ya? Tapi yang gue temuin cuma 4-5 keluarga lokal lagi main di bibir pantai, beberapa bule ngopi di cafe, dan suara ombang yang… terlalu dominan.
Dibandingin tahun 2019 yang lalu, turis asing turun sekitar 60-70% katanya. Bule yang gue temuin kebanyakan long-stay, bukan turis harian. Mereka nggak sibuk-sibuk banget ngabisin duit, cuma mau cari tempat tenang buat remote working.

Suasana yang Bikin Baper dan Bikin Bingung
Pantainya masih cakep sih, pasir hitam-putihnya masih sama, ombangnya masih ramah buat anak kecil. Tapi aura-nya beda. Beberapa hotel bintang 4 kayak Sheraton keliatan sepi dari jauh, taman yang dulu terawat rapi sekarang ada yang udah gimbal.
Warung-warung pinggir pantai yang dulu rame sampai tengah malem, sekarang banyak yang tutup jam 8 malam. Gue ngobrol sama Bang Made, pemilik warung ikan bakar, dia bilang penghasilannya cuma 30% dari sebelum pandemi. “Dulu sehari bisa jual 30 ekor ikan, sekarang alhamdulillah kalau 10,” katanya sambil nyeduh kopi.
Perubahan Nyata yang Gue Lihat
Ada beberapa perubahan signifikan yang bikin Senggigi beda dari ingatan gue beberapa tahun lalu:
- Air laut lebih bersih – Karena nggak banyak perahu wisata, airnya jernih banget di pagi hari
- Sampah masih jadi masalah – Sayangnya, di beberapa spot masih ada plastik yang nyangkut di bebatuan
- Harga lebih negotiable – Semua bisa ditawar, dari sewa kursi (Rp 50.000) sampai makan seafood
- Penginapan murah meriah – Homestay mulai dari Rp 150.000/malam, hotel bintang 3 bisa dapet Rp 400.000
Matahari Terbenam: Masih Juaranya
Tapi kalau ada satu hal yang nggak pernah berubah, itu sunset-nya. Jam 6 sore, langit di Senggigi masih bisa bikin gue terdiam beberapa menit. Warna jingga-merah-ungu yang nempel di Gili Trawangan di kejauhan, itu mahal banget kalau mau dibayar.
Apa yang Masih Oke Buut Dikunjungi
Jangan buru-buru nge-cross Senggigi dari list. Masih ada beberapa hal yang worth it:
- Snorkeling spot dekat pantai – 200 meter dari bibir, masih ada terumbu karang yang sehat, gue lihat Nemo beneran
- Cafe dengan view Gili – Ada beberapa cafe baru yang Instagramable tapi harganya nggak bikin dompet nangis
- Kesenian lokal – Kadang ada pertunjukan gendang beleq di malam minggu, tapi jadwalnya nggak pasti
Gue ngeluangin waktu 3 hari di sini, dan nggak bosen-bosen amat sih. Yang penting ekspektasinya diatur dari awal: ini bukan tempat party, ini tempat istirahat.
Kekurangan yang Perlu Lu Tahu
Biar nggak kecewa, gue jujurin aja minusnya:
- Transportasi umum minim – Nggak ada angkot reguler, semua harus naik ojek online atau sewa motor (Rp 75.000/hari)
- Malamnya sepi – Kalau lu suka nightlife, ini bukan tempatnya. Banyak bar tutup sebelum tengah malam
- WiFi unreliable – Buat digital nomad, ini bisa jadi deal breaker
Intinya: Senggigi itu kayak mantan yang udah nggak muda lagi, tapi masih punya pesona di mata yang mau ngelihat lebih dalam.
Tips Praktis Buat yang Mau Ke Senggigi Sekarang
Supaya perjalanan lu lebih smooth, gue kasih beberapa catatan penting:

- Waktu terbaik: April – Oktober, tapi hindari Lebaran karena harga naik 2x
- Budget harian: Rp 300.000 – 500.000 sudah cukup untuk makan, transportasi, dan aktivitas
- Simpen kontak ojek: Cari driver lokal yang trusted, biasanya mereka juga bisa jadi guide
- Bawa cash: Banyak warung nggak terima QRIS, meskipun udah 2024
Kesimpulan Gue: Worth It atau Skip?
Jadi, apakah Senggigi masih ramai? Nggak. Apakah mulai ditinggalkan? Ya, tapi nggak total. Pantai ini lagi dalam transisi, cari identitas baru.
Lu mau cari tempat tenang, murah, dan sunset spektakuler? Senggigi masih jadi pilihan solid. Tapi kalau lu nyari vibe party, infrastruktur modern, dan nightlife meriah, mending langsung cabut ke Gili atau Kuta.
Buat gue pribadi, Senggigi itu kayak buku lama di rak perpustakaan. Nggak selalu gue baca, tapi seneng ada di sana. Kadang gue butuh suasana yang nggak nuntut apa-apa, cuma mau denger ombak dan mikirin hidup. Di situ Senggigi masih juaranya.
Pilihan ada di tangan lu. Yang penting, jangan datang dengan ekspektasi salah. Senggigi sekarang adalah destinasi buat mereka yang tau mau apa.




