Lu pernah ngerasain pengen makan seafood yang super fresh di tepi laut, tapi nggak mau yang di restoran mahal-mahal ala turis? Gue juga. Makanya gue mutusin nyari tempat yang beneran local vibe di Tarakan. Dan jawabannya? Pantai Amal.

Setelah muter-muter ngobrol sama penduduk lokal, mereka semua nunjuk satu arah: “Pantai Amal, Dek. Disana kapah-nya masih segar, harganya kaki lima.” Gue langsung tertarik. Kapah itu kerang lokal yang besar dan dagingnya tebel, beda sama kerang-kerang biasa yang lu temuin di Jakarta.

Pertama Kali Nyampe di Pantai Amal

Jalan menuju Pantai Amal dari pus kota Tarakan sekitar 20 menit naik motor. Jalannya udah aspal bagus, tapi begitu masuk area pantai, lu bakal ngerasa langsung beda. Bukan pantai buatan dengan payung-payung warna-warni. Ini pantai asli dengan kapal-kapal nelayan yang parkir di bibir.

Parkir motor cuma Rp 3.000, mobil Rp 10.000. Murah banget. Begitu turun, bau laut yang khas langsung ngegantung di hidung. Bukan bau busuk, tapi bau life. Bau air asin campur ikan segar yang baru ditangkap. Suara ombak? Tenang banget, karena lokasinya di teluk. Ombaknya halus kayak lagi ngibarin selimut tipis.

Suasana yang Beda dari Pantai Biasanya

Yang bikin Pantai Amal spesial itu kejujurannya. Nggak ada pretensi jadi destinasi wisata mewah. Disini lu bakal liat ibu-ibu nelayan lagi nyortir hasil tangkapan, anak-anak main bola di pasir, dan beberapa meja plastik warna-warni yang udah jadi markas makan seafood.

Baca:  Pantai Senggigi Lombok Di Tahun Ini: Apakah Masih Ramai Atau Mulai Ditinggalkan?

Pasirnya cokelat kehitaman, lembut di kaki. Airnya jernih tapi nggak biru-biru banget, lebih ke hijau toska karena dasarnya pasir putih. Kalau lu dateng sore-sore, pukul 4-5 PM, pemandangannya brutal indahnya. Matahari terbenam di balik pulau-pulau kecil di depan.

Disini juga ada beberapa warung kecil yang jual minuman segar. Es kelapa muda? Rp 8.000 aja. Teh botol? Rp 5.000. Semua harga lokal, nggak ada mark-up buat turis.

Makan Kapah Sambil Lihat Laut

Ini dia the main event. Kapah di Pantai Amal itu kerang raksasa yang bisa lu pesen langsung dari nelayan. Harganya? Rp 15.000 – 25.000 per kilo tergantung ukuran. Gue pesen satu kilo kapah medium, cukup buat 2 orang kenyang.

Cara masaknya bisa request. Bakar, kuah kuning, atau saus padang. Gue saranin bakar aja dulu biar ngerasain rasa aslinya. Mereka bakar pakai arang, ditemenin bumbu sederhana: bawang merah, cabe rawit, dan jeruk nipis. Prosesnya cepet, 15 menit jadi.

Rasanya? Dagingnya tebel, kenyal tapi nggak alot. Manis alami seafood yang fresh off the boat. Bumbunya nggak nUTUPin rasa kerangnya, malah nge-boost. Satu gigitan, lu langsung paham kenapa orang Tarakan bangga sama kapah.

Yang paling asik? Makan sambil kaki ngecap-ngecap pasir. Meja plastiknya dipasang di pinggir pantai, jadi ombak kadang nyampe kaki lu. Ini bukan fine dining, tapi real dining. Pengalaman yang nggak bisa lu beli di mall.

Hal Penting yang Perlu Lu Tahu

Sebelum buru-buru kesana, ada beberapa hal yang mesti lu prepare:

  • Waktu terbaik: Sore hari (15.00-18.00 WITA). Nggak panas dan bisa liat sunset.
  • Bawa cash: Nggak ada mesin ATM terdekat. Semua transaksi tunai.
  • Siapkan tisu basah: Makan kerang bisa messy, dan fasilitas cuci tangan terbatas.
  • Jangan expect fasilitas mewah: Toiletnya sederhana, tapi bersih. Bayar Rp 2.000.
  • Beli dari nelayan langsung: Harga lebih murah dan pasti fresh. Cek kerang yang masih buka-tutup.
Baca:  Review Pantai Pink Lombok: Realita Warna Pasir Dan Medan Jalan Yang Ekstrem

Kalau lu bawa mobil, parkirnya agak sempit di akhir pekan. Saran gue, naik motor aja lebih luwes. Dan jangan lupa bawa kantong plastik buat sampah. Disini nggak ada petugas kebersihan 24 jam, jadi kita yang harus jaga kebersihan.

Plus Minus Pantai Amal

Buat lu yang suka list praktis, ini rangkuman gue setelah 3 kali kesana:

PlusMinus
Harga murah & bersahabatFasilitas terbatas
Seafood super freshJauh dari pusat kota (perlu transport)
Suasana lokal autentikArea parkir sempit
Pemandangan sunset epicNggak ada spot duduk yang nyaman (cuma meja plastik)

Apakah Worth It?

100% yes kalau lu tipe traveler yang suka experiencenya lebih dari foto Instagram-able. Pantai Amal itu bukan tempat buat pamer, tapi buat nyerap. Nyerep kultur, nyerep rasa, nyerep kehidupan nelayan.

Gue pernah bawa teman dari Jakarta yang biasa makan seafood di restoran bintang lima. Pertama dia agak skeptis, “Makan di pantai gini aman?” Tapi begitu gigitan pertama kapah bakarnya, dia langsung diam. “Ini paling enak seumur hidup gue,” katanya.

Pantai Amal itu bukan cuma soal makan kerang. Ini soal merasakan Tarakan yang sebenarnya. Tanpa filter, tanpa drama, tanpa harus bayar mahal.

Kalau lu ke Tarakan dan nggak ke Pantai Amal, yakin deh lu ketinggalan. Ini spot yang ngingetin gue kenapa gue suka jadi traveler: bukan buat ngecek list, tapi buat nemu tempat-tempat yang masih jujur sama dirinya sendiri.

Dateng aja sore-sore, bawa perut kosong, dan siapin diri buat kaget sama rasanya. Dan jangan lupa bilang makasih sama ibu-nya yang masakin. Mereka yang bikin Pantai Amal jadi lebih dari sekadar pantai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Nihiwatu Beach Sumba: Mengintip Pantai Termahal Di Dunia (Bisa Masuk Tanpa Menginap?)

Denger nama Nihiwatu Beach itu langsung mikir: “Wah, pasti mahal banget.” Pantai…

Review Pantai Pink Lombok: Realita Warna Pasir Dan Medan Jalan Yang Ekstrem

Pernah liat foto Pantai Pink di Instagram yang warnanya merah muda pastel…

Pantai Tanjung Aan Vs Kuta Mandalika: Mana Yang Lebih Bagus Untuk Keluarga?

Pernah nggak sih kalian berdiri di dua pantai dalam satu hari dan…

Review Kepulauan Derawan: Menginap Di Water Villa Vs Homestay Darat (Perbandingan Harga)

Derawan itu cantik, tapi pilihan akomodasinya bisa bikin pusing. Water villa yang…