Jadi begini, gw baru aja pulang dari Likupang dan masih bingung campur aduk. Destinasi super prioritas katanya, tapi nyampe sana tuh perjuangan banget. Akses? Masih banyak yang harus diperbaiki. Sinyal? Haha, jangan ditanya. Tapi pantainya? Iya, emang bagus. Gw bakal ceritain semua aslinya, jadi kamu bisa prepare sebelum ke sana.

Perjalanan Menuju Likupang: Medan yang Belum Bersahabat

Gw mulai dari Manado jam 6 pagi, naik mobil sewaan. Harapannya sih 2 jam nyampe, tapi ternyata butuh hampir 4 jam. Jalanan setelah Likupang Baru itu… gila. Lubangnya segede mangkok, dan jumlahnya nggak terhitung. Mobil gw bolak-balik ngehindar kayak main game.

Kalau kamu naik angkot, cari yang jurusan Likupang dari Terminal Malalayang. Tarifnya Rp 30.000-40.000, tapi bakal penuh sesak plus barang-barang dagangan. Dari pusat Likupang ke pantainya, masih harus naik ojek online atau ojek pangkalan seharga Rp 15.000-20.000.

Pantai Likupang Itu Sendiri: Pasir Putih vs Reality Check

Sampe di pantai, gw akui pemandangannya stunning. Pasir putih lembut, air laut biru toska jernih banget. Tapi begitu turun ke area pantai, realita lain muncul. Sampah plastik masih nempel di beberapa titik, apalagi dekat warung-warung. Belum ada sistem pengelolaan sampah yang proper.

Area yang udah dibangun pemerintah cuma segelintir. Kursi payung dan gazebo ada, tapi terbatas. Pas gw dateng, sekitar 20 orang pengunjung lokal pada piknik. Belum terlalu ramai, tapi pas weekend bisa full.

Baca:  Taman Laut Bunaken Manado: Kondisi Terumbu Karang Saat Ini (Review Jujur)

Zona yang Bisa Dikunjungi

Likupang itu sebenernya nggak cuma satu pantai. Ada beberapa spot:

  • Pantai Pulisan: Spot snorkeling paling populer. Air dangkal, ikan warna-warni.
  • Pantai Lihaga: Butuh perahu, super private tapi aksesnya tricky.
  • Pantai Likupang Utama: Area publik yang paling ramai, dekat parkiran.

Test Sinyal: Provider Mana yang Masih Hidup?

Ini yang paling gw khawatirin sebelum berangkat. Gw butuh kerja remote, jadi sinyal itu life or death. Gw test 3 provider sekaligus: Telkomsel, Indosat, XL.

Hasilnya? Telkomsel menang telak. 4G LTE nyala stabil di area utama, kecuali pas gw jalan ke ujung pantai. Download speed rata-rata 15-20 Mbps. Cukup buat Zoom call.

Indosat cuma dapet 3G doang, sering ilang-ilangan. XL? Hampir nggak ada sinyal sama sekali, cuma SOS doang. Buat kamu yang butuh internet, beli kartu Telkomsel sebelum masuk Minahasa Utara. Jangan andalkan WiFi warung, soalnya nggak ada.

Fasilitas: Masih Tahap “Work in Progress”

Sebagai destinasi super prioritas, ekspektasinya tinggi. Tapi faktanya, banyak fasilitas masih dalam konstruksi. Toilet umum ada, tapi kondisinya… ya minimalis. Air bersih nggak selalu mengalir. Warung makan cuma 3-4 biji, menu seafood standar tapi harganya nggak murah. Ikan bakar Rp 60.000, nasi Rp 10.000.

Parkir motor Rp 5.000, mobil Rp 10.000. Tapi nggak ada penjaga resmi, cuma warga sekitar yang ngumpul. Pengunjung asing? Belum ada sama sekali. Semuanya masih lokal.

Tips Berangkat ke Likupang (Berdasarkan Kegagalan Gw)

Gw bikin list ini biar kamu nggak ngulang kesalahan gw:

  1. Bawa power bank yang kapasitas gede. Charging station nggak ada.
  2. Isi bensin penuh di Manado. SPBU terakhir sebelum Likupang di Airmadidi, setelah itu jarang.
  3. Datang weekday kalau mau sepi. Weekend rame sama rombongan keluarga.
  4. Beli makanan & air mineral dari kota. Harga di pantai 2x lipat.
  5. Siapin uang cash. Nggak ada ATM terdekat, e-wallet juga jarang yang support.
Baca:  Pantai Losari Makassar: Bukan Untuk Berenang, Tapi Review Kuliner Pisang Epe

Kesimpulan: Pantai Cantik yang Masih Butuh Waktu

Likupang punya potensi luar biasa. Tapi status “super prioritas” belum berasa di lapangan. Akses jalan parah, sinyal cuma bergantung satu provider, fasilitas masih minim. Buat yang cari pantai pristine dan nggak masalah sama medan, ini worth it. Tapi buat digital nomad atau keluarga dengan anak kecil, masih challenging.

Likupang itu seperti cewek cantik yang masih belum mandi pagi. Potensialnya ada, tapi kamu harus sabar nunggu dia siap. Datenglah dengan ekspektasi realistis dan persiapan matang.

Gw pribadi sih bakal balik lagi, tapi nunggu dulu sampe jalanannya mulus dan WiFi di penginapan lebih reliable. Kalau kamu udah pernah ke sana, share pengalamanmu di kolom komentar ya. Happy traveling!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Pantai Tanjung Bira Bulukumba: Benarkah Pasirnya Sehalus Tepung?

“Pasir sehalus tepung.” Kalimat itu yang pertama kali terngiang saat aku mendengar…

Raja Ampat Low Budget: Review Homestay Di Piaynemo Vs Resort Mewah

“Raja Ampat itu mahal.” Itu yang pertama kali muncul di kepala gue…

Ora Beach Seram Maluku: Review Penginapan Ala Maldives & Biaya Transportasi Dari Ambon

Ora Beach itu ibarat cinta jarak jauh yang sering dilihat foto-fotonya di…

Pantai Olele Gorontalo: Spot Snorkeling Koral Salvador Dali Yang Langka

Pernah nggak sih kamu snorkeling terus lihat koral yang bentuknya… aneh? Bukan…