Pernah nggak sih kamu snorkeling terus lihat koral yang bentuknya… aneh? Bukan biasa aja, tapi kayak lukusan surrealist yang nyeleneh. Nah, di Gorontalo ada. Namanya koral Salvador Dali. Pertama kali denger, aku mikir, “Ah, lebay.” Tapi begitu nyemplung dan lihat sendiri, langsung nganga. Ini bukan sekadar snorkeling spot, ini underwater gallery.
Lokasi dan Akses: Menuju Desa Cantik di Ujung Timur
Olele terletak di Desa Olele, Kecamatan Bone Bolango, Gorontalo. Dari Kota Gorontalo, perjalanan darat sekitar 2-2,5 jam. Jalanannya? Lumayan mulus sampai beberapa titik, tapi ada bagian yang masih berlubang-lubang kecil. Enaknya sih, sepanjang jalan kamu disuguhi pemandangan perbukitan hijau dan pantai-pantai kecil yang bikin mata segar.
Kalau naik motor, lebih fleksibel. Bisa berhenti sembarang buat foto. Kalau naik mobil, parkir di dermaga desa. Ongkos parkir biasanya Rp10.000-20.000. Dari sini, kamu harus naik perahu nelayan tradisional menuju spot snorkeling. Perjalanan laut sekitar 10-15 menit aja, tapi pemandangannya udah bikin tenang.

Snorkeling di Koral Salvador Dali: Bukan Mainstream, Ini Langka Banget
Ini dia inti dari semuanya. Koral Salvador Dali itu sebenarnya soft coral jenis Dendronephthya yang tumbuh vertikal, melengkung-lengkung, dan bercabang-cabang. Bentuknya mirip jam di lukisan Salvador Dali yang melengkung lumer. Koralnya warna-warni: orange, kuning, pink, ungu. Kerennya lagi, mereka tumbuh di kedalaman cuma 3-7 meter. Jadi cukup snorkel, nggusah diving.
Arusnya cenderung tenang, tapi tetep harus hati-hati. Suhu air sekitar 27-29°C. Keterlihatan (visibility) bisa sampe 15-20 meter pas musim kering. Aku pas kesana bulan Oktober, jernih banget. Rasanya kayak berenang di aquarium raksasa.
Spot Lain yang Nggak Kalah Keren
Nggak cuma Salvador Dali sih. Di sekitarnya ada beberapa spot snorkeling lain:
- Spot Traffic Jam: Koral keras yang bentuknya kayak mobil-mobilan mini. Lucu banget.
- Spot Honeycomb: Dinding koral dengan lubang-lubang kayak sarang tawon. Banyak ikan kecil-kenaik nongkrong di situ.
- Spot Bongkah: Area koral besar yang jadi rumah ikan-ikan tropis. Sering ada turtle!
Biaya dan Fasilitas: Sesuai Kantong Backpacker
Biaya snorkeling di Olele masih sangat terjangkau. Kalau datang sendiri, kamu bisa nego langsung sama nelayan setempat. Tapi kalau mau lebih gampang, paket dari operator lokal juga ada.
| Item | Harga (per orang) |
|---|---|
| Sewa perahu (max 4 orang) | Rp250.000 – 350.000 |
| Alat snorkel (mask, fin, life vest) | Rp50.000 – 75.000 |
| Guide lokal | Rp100.000 – 150.000 |
| Retribusi desa | Rp20.000 |
Total per orang kalau rombongan 4 orang, kira-kira Rp150.000 – 200.000 per orang. Murah banget untuk pengalaman se-keren ini.
Fasilitas? Jangan harap ada warung mewah. Di dermaga cuma ada warung kecil yang jual mie instan, kopi, dan air mineral. Toilet umum ada, tapi bersihnya… ya standar desa. Saranku, bawa bekal sendiri aja. Roti, buah, dan air mineral cukup.
Tips & Trik: Biar Nggak Cuma Jadi Bule Bodoh
Pengalaman pahitku pas pertama kesana: nggak bawa sunblock reef-safe. Malu sama guide lokal yang bilang, “Pakai sunblock biasa bikin koral mati, Mas.” Jadi, wajib bawa sunblock ramah koral. Kalau nggak punya, lebih baik pakai baju UV protection.
Waktu terbaik snorkeling adalah pagi hari sekitar jam 7-10. Airnya paling jernih dan matahari nggak terlalu bikit. Sore juga bisa, tapi kadang arus mulai kencang.
- Pakai sepatu karet. Dasar laut di beberapa spot berpasir kasar dan ada potongan koral.
- Bawa kamera underwater. Koralnya terlalu bagus buat cuma disimpen di memori otak.
- Jangan sentuh koral. Meskipun terlihat kuat, soft coral itu sangat rapuh.
- Cek bulan. Pasang surut mempengaruhi arus dan keterlihatan. Hindari pasang purnama.

Pengalaman Pribadi: Ngobrol Sama Nelayan
Yang bikin aku suka Olele adalah interaksinya sama masyarakat lokal. Guideku namanya Pak Sabar. Dia nggak cuma ngantar snorkeling, tapi juga cerita banyak. Katanya, koral Salvador Dali ini ditemukan awal 2000-an sama penyelam lokal. Dulu cuma diketahuan nelayan, sekarang mulai rame tapi masih terjaga.
Pas istirahat di perahu, dia bawain kelapa muda segar. Harganya Rp10.000, tapi rasanya beda dari yang di kota. Manis dan dingin, pas banget setelah 2 jam di air. Obrolan kita dari ikan, cuaca, sampai anaknya yang kuliah di Makassar. Itu yang bikin perjalanan jadi lebih berarti.
Ingat: Kita cuma tamu di rumah mereka. Jaga sikap, jangan terlalu resek, dan selalu hargai aturan lokal. Koral ini langka, kalau rusak, nggak bisa kita tanggung jawabin ke generasi selanjutnya.
Kesimpulan: Worth It atau Nggak?
Jujur, aku pernah snorkeling di Raja Ampat, Bunaken, dan Wakatobi. Masing-masing punya keunikan. Tapi Olele itu spesial karena aksesibilitasnya. Kamu nggusah jauh-jauh, nggusah keluar duit banyak, tapi tetep bisa lihat sesuatu yang langka. Koral Salvador Dali itu benar-benar hidup dan unik.
Untuk yang tinggal di Sulawesi atau Borneo, ini bisa jadi weekend trip. Dari Jakarta? Ya, butuh effort lebih. Tapi kalau kamu udah di Gorontalo, lewatin Olele itu kesalahan besar. Tempatnya masih alami, orangnya ramah, dan pengalamannya otentik.
Jadi, buatku, worth every single penny. Bukan cuma soal koralnya, tapi juga soal cerita dan koneksi yang kamu bangun sama orang lokal. Itu yang bikin traveling jadi lebih dari sekadar checklist.




