Pantai Losari itu bukan tempat kamu bawa bikini dan snorkel. Airnya cokelat keemasan, bukan turquoise. Ombaknya malas bergerak, tapi arusnya licik. Saya sampai sana siang bolong, panas menggelegak, nyari tempat duduk di trotoar. Lalu bau gosong manis menguar. Itu dia. Pisang Epe. Masalahnya: semua orang bilang Losari cuma soal sunset, tapi yang sebenarnya bikin nagih itu pisang bakar cairan emas itu.
Kenapa Losari Bukan untuk Berenang (dan itu Oke)
Pantai ini adalah epicentrum kota, bukan surga tropis. Airnya keruh, sampah plastik masih sesekali muncul. Tanda “Dilarang Berenang” bukan hiasan. Saya lihat sendiri seorang bapak nyoba turun, kaki langsung nyemplak lumpur dalam. Dia naik lagi, geli.
Tapi justru itu pesonanya. Losari adalah living room Makassar. Orang datang bukan untuk basah-basahan, tapi untuk ngobrol, nongkrong, dan makan. Sunset-nya memang legendaris, tapi yang bikin betah di trotoar panjang itu adalah pedagang kaki lima yang seperti pasukan terorganisir.

Pisang Epe: Legenda yang Dijual Rp 15.000
Pisang Epe itu sederhana: pisang raja bakar, di-teng-teng pakai piringan logam, lama-lama jadi lembut. Tapi prosesnya adalah ritual. Saya ngobrol sama Bu Nani, pedagang di sebelah Mercusuar Losari. Dia mulai jualan jam 4 sore, bawa gerobak seadanya.
Pisangnya dipilih matang pas, kulitnya hitam-legam di atas bara. Setelah empuk, diolesi gula merah cair kental yang mereka sebut “lawa”. Kadang pakai sirup nangka atau durian. Harganya? Rp 10.000-15.000 per porsi. Murah sampai bikin merasa bersalah.
Prosesnya Adalah Pertunjukan
Kamu harus lihat tangan mereka. Cepat, presisi. Begini urutannya:
- Panggang: Pisang dipanggang di atas arang kecil, diputar-putar.
- Tekan: Pakai piringan logam atau botol, ditekan pelan sampai pipih.
- Balik: Dibalik, dipanggang lagi, ditekan lagi—dua kali.
- Olesi: Gula merah cair disiram merata pakai sutil kayu.
- Topping: Kelapa parut, kadang keju (kalau mau yang “modern”).
Tak lebih dari 5 menit, tapi setiap detiknya ada di depan mata. Bau gosongnya menggoda. Suara “cicit” gula merah di bara.
Rasa yang Bikin Lupa Diri
Pertama kali gigit, wow. Manisnya gula merah itu beda. Nggak cuma manis, ada smoky dan earthy. Tekstur pisangnya lembut seperti krim, tapi tetap ada chewiness dari seratnya. Kelapa parutnya kasar, bikin kontras.
Saya coba versi durian. Sirup duriannya bukan yang murahan—wanginya tajam, legit. Bu Nani bilang, “Ini buat turis Jakarta, suka yang wangi-wangi.” Saya ketawa. Dia bener. Tapi yang klasik, gula merah murni, tetap yang paling nagih.
Perhatian: Pisang Epe itu manisnya agresif. Kalau nggak suka manis, bilang “kurang gula” atau minta dipisah. Jangan malu. Mereka ngerti.
Saya lihat sepasang turis mancanegara, mereka minta “less sugar”. Hasilnya masih manis, tapi lebih seimbang. Mereka jempolin Bu Nani, ngomong “amazing” berkali-kali.
Spot Terbaik: Mercusuar vs. Kartini
Ada dua zona utama. Pertama, dekat Mercusuar Losari. Sini paling ramai, pemandangan sunset terbaik. Tapi kamu harus siap berdesakan. Pedagangnya banyak, tapi yang legendaris biasanya di sini.
Kedua, sekitar Jalan Kartini. Lebih tenang, lebih lokal. Saya suka sini kalau mau ngobrol santai sama pedagang. Bangku betonnya lebih bersih. Sunset-nya tetap ok, tapi tanpa mercusuar sebagai foreground.

Kalau malas jalan, parkir motor di atas trotoar (ya, di situ) dan teriak “Pisang Epe!” Biasanya ada yang datang. Tapi lebih seru cari sendiri.
Jam Terbaik dan Tips Praktis
Pedagang mulai muncul jam 4 sore, puncaknya jam 5-6 sore. Saya sarankan datang jam 4.30. Masih ada cahaya cantik buat foto, tapi nggak terlalu ramai. Plus, kamu bisa ngobrol lebih lama sama penjualnya.
Beberapa hal yang saya pelajari:
- Bawa tisu basah. Gula merah itu lengket. Pasti.
- Siapkan uang pas. Banyak yang nggak punya kembalian besar.
- Minta hangat. Kadang mereka bikin banyak, jadi ada yang udah dingin. Yang hangat jauh lebih enak.
- Jangan lupa foto. Tapi jangan kebanyakan. Makan sambil hangat itu kenikmatan.
Saya pernah datang jam 7 malam, hampir gelap. Pisang Epe-nya masih ada, tapi udah dingin. Rasanya masih ok, tapi teksturnya lebih kenyal, nggak lembut. Beda banget.
Varian Lain yang Patut Dicoba
Selain Pisang Epe, ada Pisang Ijo. Bukan bakar, tapi pisang dibungkus adonan hijau (pandan), dikukus, disiram saus susu gula. Rasanya lebih creamy, lebih “berat”. Harganya sama, Rp 15.000.
Ada juga Barongko, kue pisang kukus berasal dari Bugis. Nggak selalu ada, tapi kalau ketemu, coba. Manisnya lebih halus, ada rasa santan.
Tapi ya, Pisang Epe tetap king. Bukan cuma makanan, tapi simbol kota. Saya tanya Bu Nani, “Kenapa nggak buka di mall aja?” Dia ketawa. “Di sini aja sudah cukup. Laut, angin, dan orang-orang yang kenal sayu.”
Kesimpulan: Makanan yang Butuh Konteks
Pisang Epe di Losari itu nggak cuma soal rasa. Soal tempat. Kamu makan sambil angin laut berhembus, suara ojek online ngebut di jalan, bau asap kendaraan campur gula bakar. Itu Makassar. Kotor, ramai, tapi hidup.
Jadi ya, nggak usah bawa ekspektasi pantai Bali. Bawa perut kosong dan rasa penasaran. Datang jam 5 sore, cari Bu Nani atau pedagang lain, duduk di trotoar, dan biarkan manisnya gula merah itu melupakan semua “kekurangan” Losari.
Oh, dan bawa botol air. Kamu butuh cuci mulut setelahnya. Trust me.




