Ora Beach itu ibarat cinta jarak jauh yang sering dilihat foto-fotonya di Instagram, tapi pas ketemu langsung, ternyata perjuangannya nggak main-main. Kalau kamu pernah lihat foto cottages di atas air dengan air turquoise yang sebening kaca, yup, itu dia. Tapi yang banyak nggak cerita adalah gimana caranya sampe sana dan berapa banyak keringat yang harus keluar—baik secara harfiah maupun finansial.

Saya habis lima hari empat malam di sana, langsung dari Ambon. Nggak pake tur, semua DIY. Jadi ini review jujur dari seseorang yang udah ngerasain susah-senangnya, bukan dari brosur wisata. Kita bahas semua: transportasi, penginapan, makan, aktivitas, dan tentu saja, total biaya.

Perjalanan dari Ambon: Ombak, Jalan Rusak, dan Dompet yang Menipis

Transportasi ke Ora Beach itu yang paling tricky. Nggak ada airport dekat, nggak ada jalan mulus. Kamu harus kombinasi fast boat, mobil, dan perahu kecil. Saya mulai dari kota Ambon jam 6 pagi, dan baru sampe jam 3 sore. Total waktu tempuh: 9 jam dengan segala macam moda transportasi.

Begini rute lengkapnya:

  • Ambon → Tulehu (Pelabuhan): 1 jam naik mobil (Rp 150.000-200.000 untuk sewa avanza)
  • Tulehu → Amahai (Seram): 2 jam naik fast boat (Rp 150.000/orang)
  • Amahai → Saleman (Desa Terdekat Ora): 3-4 jam naik mobil off-road (Rp 500.000-600.000 untuk sewa)
  • Saleman → Ora Beach: 30 menit naik perahu nelayan (Rp 50.000-100.000/orang)

Total transportasi pulang-pergi per orang kalau bareng 2-3 orang: sekitar Rp 1.800.000 – 2.200.000. Kalau solo traveler, lebih mahal karena harus nanggung mobil sendiri. Tips: cari teman travel di Ambon dulu lewat grup Facebook atau hostel.

Jalan dari Amahai ke Saleman itu yang paling brutal. Bayangin jalan tanah merah rusak parah, naik turun bukit, sempit, dan penuh lubang. Kalau nggak kuat mabuk darat, siapin plastik. Driver lokal di sini emang jago, tapi tetep aja perut ikut goyang-goyang. Pemandangannya sih luar biasa—hutan tropis, sungai, desa-desa kecil—tapi nggak bisa dinikmati kalau lagi mabuk.

Penginapan di Ora Beach: Maldives-nya Indonesia atau Lebih ke Lokal Homestay?

Ora Beach punya beberapa cottage kayu yang dibangun di atas air. Ada dua tipe utama: cottage murah (homestay) dan Ora Beach Resort yang lebih mahal. Saya coba yang murah dulu, terus upgrade satu malam di resort buat bandingin.

Baca:  Pantai Losari Makassar: Bukan Untuk Berenang, Tapi Review Kuliner Pisang Epe

Cottage Murah (Homestay Lokal)

Harga: Rp 300.000-400.000/malam untuk kamar 2 orang. Fasilitas: kasur spring bed, kipas angin, listrik dari genset (nyala jam 6 malam – 6 pagi), kamar mandi luar (squat toilet, air sumur). Nggak ada AC, nggak ada wifi. Sinyal HP? Hampir nol kecuali Telkomsel yang kadang-kadang.

Suasana: Authentic banget. Kamu denger suara ombak, kicau burung, dan suara nelayan lewat pagi-pagi. Pintu depan langsung menghadap laut. Bisa terjun langsung dari teras buat snorkeling. Tapi jangan harap kemewahan. Dinding kayu tipis, jadi dengar tetangga ngobrol atau bersin. Kebersihan standar, tapi cukup nyaman kalau emang niatnya bukan nginep di hotel bintang lima.

Ora Beach Resort

Harga: Rp 800.000-1.200.000/malam untuk cottage premium. Fasilitas: AC (tapi cuma nyala pas listrik nyala), kamar mandi dalam, air panas (!), spring bed lebih bagus, dan view yang lebih terisolasi. Masih nggak ada wifi dan sinyal tetep jelek.

Bedanya: lokasi lebih jauh dari kampung, jadi lebih tenang. Cottage lebih besar dan lebih stabil. Tapi honestly? Kalau saya pribadi, nggak worth it lah. Uang lebih baik dibelikan makan ikan segar berkali-kali. Kecuali kamu butuh AC banget atau honeymoon yang butuh privacy ekstra.

Hidup di Ora Beach: Makan, Jaring Ikan, dan Bintang yang Bikin Lupa Waktu

Makanan di sana tergantung nelayan hari ini dapat apa. Nggak ada menu baku. Kamu pesan ke ibu-ibu desa, terus mereka masakin. Harga: Rp 30.000-50.000/porsi untuk ikan bakar, sayur asem, nasi, sama teh manis. Rasanya? Enak banget karena ikan literally baru ditangkap 2 jam sebelumnya.

Untuk sarapan, biasanya mereka bikin roti bakar atau bubur. Harga Rp 15.000-20.000. Minuman: air mineral Rp 5.000, kopi Rp 10.000. Bawain camilan dari Ambon karena nggak ada warung atau mini market. Saya bawa indomie 5 bungkus dan biskuit, cukup buat ngemil malem.

Pengalaman paling berkesan: malam-malam duduk di teras cottage, lampu dimatikan, dan lihat langit penuh bintang tanpa polusi cahaya sama sekali. Bintang jatuh bisa lihat jelas. Suara ombak jadi backsound. Ini yang nggak bisa dibeli dengan AC atau wifi.

Aktivitas di Ora Beach

Snorkeling: Gratis kalau bawa peralatan sendiri. Kalau sewa: Rp 50.000/set. Spotnya right under your cottage. Koral masih bagus, ikan warna-warni, dan kalau beruntung bisa ketemu penyu. Saya lihat dua ekor penyu hijau di hari kedua.

Diving: Ada dive center lokal. Harga Rp 400.000-500.000/dive termasuk guide. Spotnya di sekitar pulau-pulau kecil. Saya nggak diving karena budget, tapi teman saya bilang underwater life-nya top.

Baca:  Taman Laut Bunaken Manado: Kondisi Terumbu Karang Saat Ini (Review Jujur)

Trekking ke Air Terjun: 2 jam jalan kaki masuk hutan. Guide lokal Rp 100.000. Air terjunnya kecil tapi segar banget. Jalanannya becek dan curam, jadi bawa sepatu yang bagus.

Island Hopping: Naik perahu nelayan keliling pulau-pulau kecil. Harga Rp 300.000-400.000/perahu untuk seharian. Bisa ke Pulau Sawai, Pulau Kasa, terus snorkeling di spot koral raksasa.

Biaya Total & Budgeting: Berapa Duit yang Harus Disiapkan?

Untuk 4 hari 3 malam, ini breakdown per orang (asumsi 2 orang berduaan):

KeteranganBiaya (Rp)
Transportasi PP (Ambon-Ora)1.800.000
Penginapan (3 malam, cottage murah)450.000
Makan (3x sehari x 4 hari)450.000
Aktivitas (snorkel + trekking + island hopping)300.000
Lain-lain (air mineral, tips)100.000
TOTAL3.100.000

Kalau mau lebih irit: naik kapal kayu biasa (Rp 50.000) bukan fast boat, makan lebih sedikit, nggak island hopping. Bisa turun ke Rp 2.500.000. Kalau mau lebih mewah: pilih resort, makan di resort, diving. Bisa naik ke Rp 5.000.000+.

Tips & Trik Praktis Biar Nggak Kaget

  • Booking penginapan: Hubungi langsung via nomor telpon. Nggak ada platform online. Cari nomornya lewat Instagram @orabeachresort atau tanya ke Dinas Pariwisata Maluku. Booking minimal 1 minggu sebelum, terutama pas liburan.
  • Transportasi: Kalau nggak mau ribet, paket travel dari Ambon ada. Harga Rp 2.500.000/orang sudah termasuk transport PP dan penginapan. Tapi kamu nggak bebas explore.
  • Peralatan wajib bawa: Power bank besar (listrik cuma 12 jam), sunblock, snorkeling gear (kalau punya), obat mabuk darat, senter, uang cash (nggak ada ATM), dan expectation yang realistis.
  • Waktu terbaik: Maret-Mei dan September-November. Laut tenang, langit cerah. Hindari Desember-Februari (hujan) dan Juni-Agustus (ombak besar).
  • Sinyal: Cuma Telkomsel yang kadang ada 1 bar di spot tertentu. Jangan harap bisa WFH dari sana. Ini tempat untuk digital detox paksa.

Kesimpulan: Worth It Nggak Sih?

Jujur, Ora Beach bukan untuk semua orang. Kalau kamu tipe yang butuh wifi cepat, AC 24 jam, dan room service, skip aja. Bakal kecewa. Tapi kalau kamu traveler yang suka raw experience, nature, dan nggak masalah berdarah-darah dulu buat sampe sana, ini surga tersembunyi yang beneran.

Perbandingan dengan Maldives? Fotonya mirip, tapi pengalamannya beda. Maldives itu luxury resort, everything is taken care of. Ora Beach itu do-it-yourself adventure. Kamu harus proaktif, sabar, dan adaptable. Tapi reward-nya: pantai sepi (cuma 10-15 turis pas saya di sana), interaksi dengan nelayan lokal yang super ramah, dan kepuasan “saya beneran berhasil sampe sini”.

Total biaya sekitar Rp 3 juta untuk 4 hari itu sebanding kok. Kalau ke Maldives, belum cukup buat bayar airport tax. Jadi ya, buat saya, worth every single rupiah and sweat. Tapi sekali lagi, manage your expectation. Ini Maluku, bukan Bali.

Siapin mental, fisik, dan dompet. Terus selamat menikmati salah satu pantai terindah di Indonesia yang masih belum terlalu commercialized. Dan kalau udah sampe sana, ingat: jangan buang sampah sembarangan, respect local culture, dan taro hp di tas. Langit malamnya lebih menarik dari Instagram anyway.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Pantai Losari Makassar: Bukan Untuk Berenang, Tapi Review Kuliner Pisang Epe

Pantai Losari itu bukan tempat kamu bawa bikini dan snorkel. Airnya cokelat…

Pantai Base-G Jayapura: Pondok-Pondok Santai Dan Kejernihan Air Laut Pasifik

Jayapura itu punya banyak pantai, tapi kalau kamu cari yang benar-benar beda—bukan…

Pantai Harlem Jayapura: “Surga Kecil” yang Sulit Dijangkau, Cek Rincian Biaya Perahu

Pernah denger pantai yang katanya lebih cantik dari Raja Ampat tapi aksesnya…

Pantai Likupang Minahasa Utara: Review Destinasi Super Prioritas (Akses & Sinyal)

Jadi begini, gw baru aja pulang dari Likupang dan masih bingung campur…