Pernah denger pantai yang katanya lebih cantik dari Raja Ampat tapi aksesnya bikin pegel? Ya, itu Pantai Harlem di Jayapura. Saya sendiri awalnya skeptis, tapi setelah ngeliat foto-fotonya, langsung tekad: harus kesana. Masalahnya, nggak ada jalan darat yang nyaman. Satu-satunya cara: naik perahu. Dan itu sekaligus jadi bagian paling mahal dari perjalanan ini.
Ngomongin biaya perahu ke Harlem, ini yang paling sering ditanyain teman-teman. Saya bakal jujur: nggak murah, tapi worth it kalau kamu datang bergerombol. Perjalanan dimulai dari Desa Tablanusu, pinggiran Jayapura. Di sana, kamu harus cari kapten yang berpengalaman. Jangan asal pilih, soalnya ombak di selat ini cukup nakal.

Biaya Perahu: Berapa Sih yang Harus Disiapkan?
Biaya perahu ke Pantai Harlem bervariasi tergantung negosiasi dan kapasitas. Saya dapet harga setelah ngobrol panjang lebar dengan beberapa nelayan setempat. Intinya, ada dua pilihan: naik perahu umum yang nunggu penumpang penuh, atau sewa perahu pribadi.
Kalau kamu solo traveler atau cuma berdua, perahu umum adalah pilihan paling masuk akal. Biasanya mereka nunggu 6-8 orang baru berangkat. Harganya sekitar Rp 350.000 – Rp 500.000 per orang untuk pulang-pergi. Tapi jangan harap ada jadwal pasti. Kadang nunggu 2 jam, kadang seharian.
Sewa perahu pribadi lebih fleksibel waktu, tapi harganya langsung melonjak. Saya akhirnya pilih opsi ini bareng 4 teman. Totalnya Rp 1.800.000 untuk sekali jalan, tapi bisa ditunggu seharian. Bisa nego turun ke Rp 1.500.000 kalau jago nawar. Ini termasuk BBM dan kapten plus satu awak.
- Perahu Umum: Rp 350k-500k/orang (pp), waktu fleksibel, nunggu penumpang penuh
- Sewa Pribadi: Rp 1,5-2 juta/perahu (sekali jalan), max 6 orang, bisa seharian
- Tambahan: Biaya parkir mobil di dermaga Rp 20.000/mobil
- Tips: Bawa uang pas, soalnya jarang ada mesin ATM di dekat dermaga
Perahu pribadi memang lebih mahal, tapi kamu bisa request mampir di spot snorkeling rahasia di tengah jalan. Ini bonus yang nggak akan kamu dapet kalau naik perahu umum.

Dari Kota ke Dermaga: Perjuangan Sebelum Naik Perahu
Sebelum nyentuh perahu, kamu harus dulu ke Desa Tablanusu. Dari pusat Kota Jayapura, jaraknya sekitar 30-40 km. Kalau naik motor, butuh 1,5 jam. Jalanan sempit, banyak tanjakan, dan beberapa titik rusak parah. Saya sempat nyungsep di jalan berbatu, mesin motor rental langsung mati mendadak.
Alternatif lain: sewa ojek online. Harganya sekitar Rp 80.000 – Rp 100.000 per sekali jalan. Tapi jarang ada driver yang mau antar jauh-jauh ke sana. Biasanya harus nego manual lewat telepon. Lebih aman sewa mobil Avanza dengan supir lokal seharga Rp 500.000 untuk pulang-pergi, termasuk menunggu.
Sampai di Tablanusu, kamu bakal disambut dermaga kayu sederhana. Nggak ada kantor resmi, cuma warung kecil yang juga jadi basecamp nelayan. Saya sarankan datang pagi-pagi, sebelum jam 8. Ombak lebih tenang dan kapten masih semangat. Siang-siang mereka malas berangkat.
Perjalanan 45 Menit di Selat yang Bikin Deg-degan
Waktu naik perahu, saya langsung ngerasain kenapa namanya “sulit dijangkau”. Ombaknya tinggi, perahu kecil, dan suara mesin tempel nyaring bercampur angin kencang. Kapten saya, Pak Yance, bilang kalau musim hujan (Desember-Februari) sering ada gelombang setinggi 3 meter. Saya naiknya September, masih cukup aman.
Pemandangan di perjalanan bikin lupa takut. Air laut bergradasi dari coklat ke biru tua, bukit-bukit hijau di kanan-kiri, dan kadang ada lumba-lumba meloncat. Saya dapet info kalau kalau beruntung, bisa lihat pari manta di beberapa spot dangkal. Sayangnya, kali ini nggak ketemu.

Pak Yance cerita kalau dulu Harlem hanya diketahui nelayan lokal. Baru 5 tahun terakhir, foto-fotonya viral di media sosial. Sekarang, rata-rata ada 2-3 perahu yang bawa wisatawan setiap hari libur. Tapi tetep aja, nggak sepadat pantai-pantai di Bali atau Lombok.
Sampai di “Surga Kecil”: Pantai Harlem yang Sebenarnya
Setelah 45 menit penuh deg-degan, perahu mendekat ke pantai. Langsung terpana. Pasir putih halus, air biru toska jernih kayak kaca, dan nggak ada bangunan apapun. Hanya hutan bakau di sisi kanan-kiri dan bukit karst di kejauhan. Saya jadi inget sama Pantai Pink di Komodo, tapi versi lebih privat.
Yang bikin beda: nggak ada fasilitas sama sekali. Nol. Nggak ada warung, nggak ada toilet, nggak ada penyewaan snorkel. Kamu harus bawa semuanya dari Jayapura. Saya sempet lupa bawa air minum, akhirnya minum dari mata air lokal yang alirannya dari bukit. Untungnya aman, tapi nggak direkomendasikan.
Airnya dangkal hingga 50 meter dari pantai, cocok untuk snorkeling. Saya lihat karang masih sehat, ikan warna-warni bergerombol, dan nggak ada sampah plastik. Ini pantai paling bersih yang pernah saya kunjungi sejauh ini. Sayangnya, arusnya cukup kuat, jadi harus hati-hati kalau nggak bisa berenang.
Apa yang Bisa Dilakukan di Sana?
Waktu di pantai, kamu bisa ngapain aja? Ini daftar aktivitas yang saya coba selama 4 jam di sana:
- Snorkeling: Bawa peralatan sendiri, spot terbaik di sisi kiri pantai dekat karang besar
- Foto-foto: Cahaya terbaik jam 9-11 pagi, airnya paling jernih
- Camping: Bisa banget, tapi harus izin dulu ke Kepala Desa Tablanusu
- Fishing: Ikan banyak di spot kedalaman 5-10 meter, bawa kail sendiri
- Chill: Duduk di pasir, denger suara ombak, lupakan dunia. Ini yang paling bikin candu
Perbandingan Harga: Harlem vs Pantai Lain di Papua
Biaya total ke Harlem memang bikin kantong jebol kalau solo traveling. Tapi kalau dibandingkan dengan pantai “premium” lain di Papua, sebenarnya masih masuk akal. Saya buat perhitungan kasar biaya sampai ke pantai (dari Jakarta) untuk 3 hari 2 malam:
| Pantai | Transport Lokal | Akomodasi | Total Estimasi |
|---|---|---|---|
| Harlem | Rp 2 juta (perahu) | Rp 300k/malam (homestay) | Rp 2,6 juta |
| Base-G (Jayapura) | Rp 50k (ojek) | Rp 400k/malam (hotel) | Rp 450 ribu |
| Tablanusu | Rp 100k (ojek) | Rp 250k/malam (homestay) | Rp 350 ribu |
Harlem memang paling mahal, tapi pengalaman yang didapat nggak bisa dibandingin. Base-G rame dan ada banyak turis asing. Tablanusu bagus tapi nggak sejernih Harlem. Harlem itu premium karena eksklusivitasnya.
Tips Praktis Biar Nggak Boncos
Setelah ngeluarin duit banyak, saya dapet beberapa pelajaran berharga. Ini tips biar kamu bisa lebih hemat dan aman:
Pertama, selalu cari teman traveling. Maksimal 6 orang per perahu. Saya dulu cuma berdua, jadi bayar mahal. Pas hari kedua, join sama grup backpacker dari Bandung, jadi bisa bagi biaya.
Kedua, bawa semua perlengkapan. Makanan, minuman, tabir surya, obat P3K, powerbank. Semuanya. Di sana nggak ada yang jual apa-apa. Saya lupa bawa jas hujan, pas hujan deras, basah kuyup di perahu.
Ketiga, cek cuaca dan ombak. Tanya ke kapten sebelum berangkat. Kalau ombak di atas 1,5 meter, lebih baik cancel. Januari-Februari adalah musim paling berbahaya. Saya denger cerita ada perahu karam tahun lalu karena nekat.
Keempat, bayar setengah di muka. Sistemnya biasanya DP 50% di dermaga, sisanya pas sampai. Ini buat jaga-jaga kalau kaptennya tiba-tiba ngilang. Saya pernah ketipu di Raja Ampat, jadi sekarang lebih hati-hati.
Kesimpulan: Mahal tapi Memang Sebanding
Pulang dari Harlem, saya langsung bilang sama diri sendiri: “Ini pantai paling worth it sejauh ini.” Biaya perahu yang mahal jadi harga yang harus dibayar untuk privacy dan keindahan yang nggak ternodai mass tourism. Kalau kamu punya budget cuma Rp 1 juta, lebih baik pikir-pikir lagi. Tapi kalau punya Rp 2-3 juta dan ada teman, jangan ragu.
Pantai ini bukan untuk yang cari kemudahan. Ini untuk yang mau lihatin surga dalam bentuk paling alami. Kamu nggak cuma bayar perahu, tapi juga bayar pengalaman duduk di pasir putih tanpa suara apa-apa selain ombak dan burung. Dan itu, teman-teman, adalah barang paling mahal yang bisa kamu beli dengan uang.
Pantai Harlem itu seperti pacar yang susah didekati tapi sekalinya jadian, kamu jadi nggak bisa move on.
Jadi, siapin budget, cari teman, dan jangan lupa bawa kamera yang bagus. Kalau sudah sampai, kamu bakal paham kenapa saya rela ngeluarin Rp 2 juta cuma buat naik perahu. Happy traveling!



