Pantai Melawai di Balikpapan itu bukan destinasi super instagenic. Kalau kamu nyari pantai biru dengan pasir putih lembut kayak di Bali, mungkin bakal agak kecewa. Tapi kalau tujuannya cari tempat nongkrong murah meriah sambil ngemil dan lihat sunset tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam, ini salah satu pilihan paling realistis di Balikpapan. Pertanyaan besarnya: murah sih, tapi bersih nggak? Gw coba ceritain pengalaman langsung biar kamu bisa decide sendiri.
Suasanya Sore di Melawai: Pasir, Kursi Plastik, dan Suara Anak-Anak
Pertama kali datang ke sini, yang langsung nge-hit itu vibe-nya yang super lokal. Bukan pantai bule, tapi pantai warga. Parkir motor di pinggir jalan, bayar Rp 3.000, terus jalan kaki ke bibir pantai. Udara asin langsung nempel di muka. Di depan, laut warna coklat kehijauan—ya, emang gitu adanya di pesisir Kalimantan yang banyak muara.
Yang menarik itu kerumunan orang. Bukan turis, tapi keluarga-keluarga lokal yang datang sore-sore. Anak-anak main bola plastik, ibu-ibu duduk di tikar, bapak-bapak ngobrol sambil ngisep rokok. Musik dangdut dari handphone saling berlomba kerasnya. Suasana ramai tapi nggak bikin kesel, malah terasa hidup.

Biaya Nongkrong: Ini Detail Realistisnya
Mari kita bahas yang paling penting: harga. Gw bakal jujur, semua di sini murah banget. Tapi “murah” kadang ada trade-off-nya. Cek tabel biaya realistis di bawah ini biar kamu bisa nge-budget.
| Item | Harga | Keterangan |
|---|---|---|
| Parkir Motor | Rp 3.000 – 5.000 | Di pinggir jalan, nggak ada shelter |
| Parkir Mobil | Rp 10.000 – 15.000 | Beberapa tempat parkir pribadi di sekitar |
| Sewa Tikar | Rp 10.000 – 15.000 | Ukuran standard, bisa ditempatin 4-5 orang |
| Nasi Goreng | Rp 15.000 – 20.000 | Porsi cukup, rasanya standar warteg |
| Air Mineral | Rp 3.000 – 5.000 | Harga normal kayak di warung |
| Es Kelapa Muda | Rp 10.000 – 15.000 | Segar, tergantung ukuran |
| WC Umum | Rp 2.000 – 3.000 | Kondisi ya… bisa ditebak |
Dengan budget Rp 50.000 per orang, kamu sudah bisa makan, minum, sewa tikar, dan parkir. Itu sudah termasuk ongkos pulang-pergi kalau naik motor dari pusat kota. Nggak heran kalau pantai ini jadi tempat nongkrong favorit anak muda dan keluarga yang nggak mau keluar duit banyak.
Soal Kebersihan: Jujur dari Pengalaman Langsung
Okay, ini bagian yang paling sensitif. Kebersihan di Pantai Melawai itu… hit and miss. Pasir di area utama dekat warung-warung biasanya cukup bersih, ada petugas yang rajin sap-sap, tapi nggak 100%. Masih bisa nemuin bungkus rokok atau botol bekas di sela-sela pasir.
Kalau jalan sedikit ke samping, ke area yang sepi, situasinya beda. Sampah plastik terlihat lebih banyak. Ini bukan salah pengelola aja, tapi juga kesadaran pengunjung. Banyak yang masih buang sampah sembarangan. Gw pernah lihat ibu-nya marahin anaknya karena buang sampah di pasir, tapi di sisi lain ada bapak-bapak yang asal lempar botol ke laut. Kontras banget.
Air lautnya sendiri cukup keruh, apalagi pas surut. Bukan kotor karena sampah, tapi karena aliran sungai dan lumpur. Jadi kalau mau main air, jangan harap airnya jernih. Tapi buat duduk-duduk aja, sih, nggak masalah.
Fasilitas: Mana yang Bisa Diandalkan?
Fasilitasnya basic banget. Ada beberapa warung tenda yang jual makanan dan minuman, tapi toilet umumnya… ya, cuma buat emergency. Bawa tisu dan hand sanitizer wajib hukumnya. Nggak ada shower area, jadi kalau basah-basahan, ya, pulang aja basah.

Aktivitas yang Bisa Kamu Lakukan
Bukan pantai buat surfing atau snorkeling, tapi ada beberapa hal yang tetep bikin betah:
- Nongkrong hingga malam: Banyak yang datang dari sore sampe lampu-lampu warung nyala. Suasana malam di sini malah lebih adem.
- Fotografi street: Kalau suka candid foto, banyak momen human interest. Anak-anak main, nelayan bersihin jala, ibu-ibu ngobrol.
- Makan seafood (agak mahal): Ada warung seafood di sekitar, tapi harganya nggak se-murah snack. Bisa jadi pilihan kalau mau makan ikan bakar.
- Nyari spot sunset: Sunset di sini cantik, apalagi kalau cuaca cerah. Siluet perahu nelayan di kejauhan jadi bonus.
Intinya, ini pantai buat chill, bukan buat aktivitas water sport. Nggak ada banana boat, nggak ada rental surfboard. Semua sederhana.
Pro Tips dari Traveler yang Sudah Kesana Berkali-Kali
Kalau mau ke Melawai, ini saran gw berdasarkan trial and error berkali-kali:
- Datangnya pas sore, sekitar jam 4-5 sore. Nggak panas, dan langsung bisa nikmatin sunset.
- Bawa tisu dan hand sanitizer. Fasilitas cuci tangan minim, dan toilet umumnya… ya, gitu deh.
- Siapin uang pas buat parkir dan tikar. Nggak ada mesin ATM di sekitar pantai.
- Kalau mau lebih bersih, cari spot di sebelah kanan (arah ke arah bandara). Area ini biasanya lebih sepi dan sedikit lebih terjaga.
- Jangan lupa bawa sampah plastik buat nampung sampah sendiri. Biar nggak ikut nambah kotor.
Satu hal lagi: hati-hati sama anak-anak yang nawarin permainan atau barang. Biasanya ramah, tapi kalau nggak mau, bilang aja tegas tapi sopan. Nggak perlu takut, mereka biasanya ngerti.
“Pantai Melawai itu cerminan kota Balikpapan sendiri: sederhana, ramai, dan nggak sempurna. Tapi di situ ada kehangatan yang nggak bisa ditiru pantai-pantai elit.”
Kesimpulan: Worth It Nggak Sih?
Jadi, jawabannya tergantung ekspektasi kamu. Kalau mau pantai super bersih, fasilitas oke, dan air jernih, jangan datang ke sini. Bakal kecewa. Tapi kalau cari tempat nongkrong murah meriah, bisa duduk lama tanpa harus beli makanan mahal, dan nggak masalah sama kebersihan yang “standar lokal”, Pantai Melawai worth it banget.
Biaya total untuk satu orang bisa di bawah Rp 50.000, dan kamu sudah bisa duduk dari sore sampe malam. Itu harga segelas kopi di cafe Jakarta. Di sini, kamu dapet pemandangan laut, sunset, dan suasana lokal yang autentik. Trade-off-nya ya kebersihan dan fasilitas.
Personally, gw suka datang ke sini kalau lagi nggak malu-malu mau duduk di pasir, atau kalau ada teman-teman yang pengalaman pantai tanpa harus keluar duit banyak. Tapi kalau bawa keluarga besar dengan anak kecil yang butuh fasilitas lengkap, mungkin mending cari alternatif lain.

Pilihan ada di tangan kamu. Yang jelas, Pantai Melawai menawarkan pengalaman yang jujur—nggak dibungkus kemasan fancy. Dan kadang, di situlah letak charm-nya.



