Masalahnya, pantai-pantai di Kebumen itu tersebar dan aksesnya nggak semudah yang dibayangkan. Tapi justru itu yang bikin seru—setiap pantai punya cerita perjuangan tersendiri. Di Pantai Menganti, perjuangannya dimulai dari shuttle bus yang ngebut di jalur pasir sampai trekking 30 menit ke mercusuar.
Aku masih inget jelas, pagi itu mobilku cuma bisa parkir di basecamp. Terus mata melihat papan harga: Shuttle PP 10k/orang. Murah? Iya. Tapi belum tahu perjalanannya kayak apa.
Shuttle Bus: Taksi Pasir yang Ngebut
Bayangin aja, mobil pick-up modifikasi dengan bangku panjang di baknya. Kita naik dari parkir ke bibir pantai, tapi jalurnya bukan aspal—itu murni pasir. Kadang lembut, kadang keras, kadang miring.
Drivernya? Orang lokal yang udah kayak pembalap rally. Ngebut tapi somehow aman. Perjalanan sekitar 2 kilometer yang berasa rollercoaster alamiah. Harga Rp 10.000/orang PP itu sebenernya worth it buat hemat energi sebelum trekking.
Tips: duduk di tengah bak mobil biar nggak terlalu goyang. Kalo duduk di pojok, siap-siap otot perut ikut latihan gratis.

Pantai Menganti: Pasir Putih dan Ombak yang Nggak Main-main
Sesampainya di pantai, pemandangan pertama yang nyerocos mata itu gradasi air laut. Dari biru muda di tepi sampai biru tua di tengah. Pasirnya putih, lembut, tapi nggak terlalu luas—cuma sekitar 500 meter.
Ombak di sini cukup besar, bahkan saat air surut. Jadi kalo mau main air, tetap waspada. Nggak ada lifeguard resmi, cuma beberapa penjaga pantai sukarela. Fasilitasnya cukup basic: warung kecil, toilet umum (bayar 3k), dan parkir motor.
Yang unik: di sisi kanan pantai ada bebatuan besar yang jadi spot foto favorit. Tapi hati-hati, licin pasirnya.
Trekking ke Mercusuar: Naik atau Nyesel Seumur Hidup
Ini bagian yang paling ditunggu. Mercusuar Menganti terletak di bukit ketinggian sekitar 80 meter dari permukaan laut. Trekkingnya? Bisa lewat dua jalur: jalur beton (lebih landai) atau jalur pendek tapi curam dan berpasir.
Aku ambil jalur pendek. Big mistake. Setiap langkah kaki tenggelam setengahnya ke pasir, sementara tanjakan mencapai 45 derajat. Lama perjalanan sekitar 25-30 menit buat yang fit, atau 40 menit buat yang jarang olahraga kayak aku.
Tapi begitu sampai atas, semua rasa capek langsung hilang. Pemandangan 360 derajat—Pantai Menganti di bawah, bukit hijau di kanan-kiri, dan laut lepas yang nggak ada habisnya. Mercusuar itu sendiri nggak bisa dimasukin, tapi area sekitarnya luas buat duduk-duduk.
Spesifikasi Trekking Mercusuar
| Detail | Info |
|---|---|
| Ketinggian | ± 80 mdpl |
| Durasi | 25-40 menit |
| Tingkat Kesulitan | Sedang |
| Tiket Masuk | Gratis |
Harga & Fasilitas: Berapa Duit yang Harus Disiapin?
Biaya masuk ke area Pantai Menganti itu sendiri gratis. Iya, gratis. Tapi ada beberapa biaya operasional yang wajib dikeluarin:
- Shuttle Bus PP: Rp 10.000/orang
- Parkir Motor: Rp 5.000
- Parkir Mobil: Rp 10.000
- Toilet: Rp 3.000/kali
- Warung Makan: Rp 15.000-25.000/porsi
Total buat solo traveler sekitar Rp 50.000-70.000 buat sehari penuh. Murah banget buat pengalaman sebanyak ini.
Pro & Kon: Sejujurnya dari Aku
Yang bikin suka: Pantai masih alami, nggak terlalu ramai (aku datang weekday), trekkingnya challenging tapi rewarding, dan harganya ramah kantong. Sunset dari mercusuar juga chef’s kiss.
Yang bikin kesel: Akses jalur shuttle bus cuma ada pas tertentu (pagi-siang). Sore harus jalan kaki balik naik ke parkiran. Fasilitas toilet juga masih jorok. Dan yang paling penting: tidak ada sinyal internet di pantai. Perfect digital detox sih, tapi kalo ada emergency repot.
Jam Operasional & Waktu Terbaik
Shuttle bus beroperasi dari pukul 07.00-15.00 WIB. Di luar jam itu, kamu harus jalan kaki dari parkir ke pantai (sekitar 30 menit jalan kaki normal).
Waktu terbaik datang? Pagi sampe siang buat snorkeling dan main air. Atau datang sore (14.00-15.00), naik shuttle, terus langsung trekking ke mercusuar buat ngejar sunset pukul 17.30. Aku pilih opsi kedua dan nggak nyesel.
Tips Penting yang Sering Dikelewatkan
Jangan cuma bawa kamera, bawa juga:
- Air mineral extra—trekking ke mercusuar bikin dehidrasi cepet
- Sunblock—kayaknya jelas, tapi banyak yang lupa
- Sandal gunung atau sepatu—jangan naik trekking pakai sandal jepit (aku sakit kaki seharian)
- Powerbank—karena nggak ada listrik di warung pantai
- Sarung atau mat—buat duduk di mercusuar karena nggak ada bangku
Terakhir, cek kondisi pasang surut. Pasang tinggi bikin pantai sempit, tapi ombak lebih kecil. Surut bikin area pasir luas, tapi trekking ke mercusuar jadi lebih berdebu.
Kesimpulan: Worth It atau Skip?
Pantai Menganti itu buat yang suka petualangan mini. Kalo kamu nyari pantai instan dengan fasilitas mewah, skip aja. Tapi kalo kamu rela keringetan dikit demi pemandangan top-tier dan cerita yang bisa dibanggain, ini tempatnya. Buat aku pribadi, worth every single drop of sweat.
Oh iya, satu lagi. Jangan lupa bilang ‘makasih’ ke driver shuttle bus-nya. Mereka yang ngejaga kenyamanan perjalananmu—meskipun dengan gaya ngebut ala Fast & Furious: Pantai Edition.





