Gue masih inget betul perasaan kecewanya pas pertama kali nyampe di Pantai Panjang. Bayangin aja, udah siap-siap pake swimsuit, sunscreen tebel-tebel, trus mata langsung nangkep papan besar warna merah: “DILARANG BERENANG”. Eh, apa ini? Jauh-jauh datang ke pantai sepanjang 7 kilometer, salah satu yang paling ikonik di Bengkulu, tapi malah gaboleh nyemplung?
Tapi setelah ngobrol sama beberapa orang lokal dan ngeliat kondisi pantainya langsung, gue langsung paham kenapa aturan itu ada. Dan ternyata, larangan itu malah bikin gue explore sisi lain dari Pantai Panjang yang jauh lebih seru.
Kenapa Sih Gaboleh Berenang? Ini Alasan Nyatanya
Jangan salah, bukan karena pengelolanya jahat atau mau ngerepotin pengunjung. Alasannya serius banget: ombak dan arus bawah lautnya gila. Gue ngeliat sendiri, ombaknya nggak tinggi-tinggi amat, tapi pattern-nya random. Satu detik tenang, lima detik kemudian ada pusaran air yang tiba-tiba muncul.
Nelayan lokal cerita ke gue, setidaknya ada 3-5 kasus tenggelam per tahun di sekitar area ini. Banyak yang nyoba nekat, terutama turis dari luar kota yang nggak ngerti karakteristik pantai. Arus bawahnya kuat banget, bahkan di area yang dangkal.
Kedalaman air bisa tiba-tiba drop dari 1 meter ke 5 meter dalam jarak beberapa langkah aja. Belum lagi soal rip currents atau arus surut yang sering muncul tanpa warning. Gue pernah ngeliat sendiri, ada keluarga yang nyoba main air di pinggir, anaknya tiba-tiba keseret masuk. Untung cepet ditolong.
Pantai Panjang punya riwayat gelap soal tenggelam. Bukan cuma mitos, tapi data dari BPBD Bengkulu yang gue cek. Ngapain risiko nyawa cuma buat sekadar berenang?
Setelah kejadian itu, gue langsung hati-hati banget. Gue pernah nge-chat lifeguard lokal, mereka bilang bahkan perenang pro aja pernah kesulitan di sini. Larangan itu ada karena pengalaman pahit.
Alternatif Seru yang Gue Coba Sendiri
Jadi, kalau gaboleh berenang, ngapain aja dong? Tenang, gue udah trial and error beberapa kali ke sini. Ternyata larangan itu malah jadi berkah buat nge-push gue explore aktivitas lain yang lebih unik.
1. Fotografi Pantai dan Sunset Hunting
Ini yang paling gue suka. Pantai Panjang itu flat banget, jadi view-nya nggak terhalang apa-apa. Gue biasanya datang jam 4 sore, pas matahari mulai turun. Hasilnya? Golden hour terbaik sepanjang hidup gue.

Spot favorit gue di dekat Tugu Fatmawati, sekitar 2 kilometer dari pintu masuk utama. Di sana ada bangunan kecil yang bisa jadi foreground keren. Dan karena ombaknya nggak tinggi, pantainya bersih, tanpa banyak debris. Pasir putihnya halus, jadi kaki nggak sakit kalau jalan-jalan.
2. Ngobrol Santai sama Nelayan Lokal
Kalau datang pagi-pagi buta, sekitar jam 6-7 pagi, lo bakal nemuin puluhan nelayan yang baru balik dari laut. Gue pernah beli ikan segar langsung dari perahu, Rp 30.000 dapet 3 ekor kembung yang masih hidup-hidup.
Mereka juga cerita banyak soal kebiasaan laut di sini. Ada satu nelayan tua, Pak Jali, yang ngajari gue bedain arus aman dan berbahaya. Katanya, “Laut ini ibu, nak. Kadang diajak main, kadang marah. Hari ini dia marah, jangan dipaksa.” Wise banget.
3. Kuliner Seafood di Warung Tepi Pantai
Gue nggak akan ngelakuin ini di tempat lain. Di Pantai Panjang, ada warung-warung kecil yang buka dari sore sampai malam. Harganya murah meriah, porsinya banyak. Rekomendasi gue:
- Warung Ibu Siti – Ikan bakar sambal kacang, Rp 25.000 porsi besar.
- Rumah Makan Nelayan – Sup kepala ikan kuah bening, mantul buat angetin badan.
- Kedai Kopi Pantai – Kopi robusta khas Bengkulu, Rp 8.000 gelas.
Gue biasanya makan sambil denger suara ombak. Jauh lebih asik daripada berenang. Plus, lo bisa request masak ikan yang lo beli dari nelayan tadi.
4. Main Kite atau Layang-layang
Karena anginnya kencang dan konstan, Pantai Panjang jadi spot terbaik buat main layang-layang. Gue pernah bawa layang-layang buatan sendiri, terbangin sampe nggak keliatan lagi. Ada juga yang jual di sana, Rp 15.000-50.000 tergantung ukuran.
Yang paling seru? Kompetisi layang-layang antar anak kampung. Mereka sering banget bikin turnamen dadakan. Gue pernah ikut, kalah telak, tapi senengnya luar biasa.
5. Jalan Kaki atau Bersepeda di Jalur Paving
Ada jalur paving sepanjang 5 kilometer yang bikin pantai ini ramah buat jalan kaki atau sepeda. Gue sering sewa sepeda di dekat parkiran, Rp 20.000 per jam. Angin sepoi-sepoi, pemandangan laut di satu sisi, hutan mangrove di sisi lain.

Rasanya kayak di film-film. Pro tip: Bawa speaker kecil, dengerin podcast atau musik sambil sepedaan. Tapi jangan lupa, tetep aware sama sekitar.
Praktikal Tips dari Gue yang Udah Kesana 4 Kali
Biar pengalaman lo maksimal, gue kasih checklist praktis ini:
- Waktu terbaik: Sore jam 4-6 PM buat sunset, atau pagi jam 6-8 AM buat ngobrol sama nelayan.
- Biaya masuk: Gratis! Cuma bayar parkir motor Rp 5.000, mobil Rp 10.000.
- Bawa apa: Kamera, powerbank, uang cash (warung banyak yang nggak terima QRIS), dan layang-layang.
- Jangan bawa: Pakaian renang (nggak bakal kepake), ekspektasi buat berenang.
Satu hal lagi: jangan coba-coba nekat meski lo jago berenang. Gue pernah nge-chat lifeguard lokal, mereka bilang bahkan perenang pro aja pernah kesulitan di sini. Larangan itu ada karena pengalaman pahit.
Pantai Panjang itu bukan tempat buat nge-push limit fisik lo. Ini tempat buat nge-charge baterai mental lo.
Kesimpulan Gue: Lebih dari Sekadar Berenang
Setelah 4 kali ke Pantai Panjang, gue malah bersyukur ada larangan berenang. Karena kalau nggak, gue mungkin cuma datang, nyemplung, pulang. Sekarang, gue kenal nama nelayan, tau mana warung seafood paling enak, punya foto-foto sunset yang bisa gue pajang di rumah.
Pantai ini ngajarin gue besar: liburan itu nggak harus tentang aktivitas fisik ekstrem. Kadang, duduk di pasir, ngobrol sama orang baru, dan nikmatin momen itu sendiri sudah cukup jadi obat penat.
Jadi, kalau lo berencana ke Pantai Panjang, gue kasih rekomendasi 10/10. Tapi dateng dengan mindset yang bener: ini tempat buat slow travel, bukan tempat buat adrenaline rush. Trust me, pengalaman lo bakal jauh lebih berkesan.
See you on the sand, folks!




