Ngak ada ATM di Pulau Kei Kecil. Baca kalimat itu sekali lagi. Ngak. Ada. ATM. Kamu baru sadar betapa berharganya tiga kata itu pas sudah megang helm, keringetan, dan dompet isinya cuma struk beli es kelapa tadi siang. Tapi pasir Ngurbloat? Ya Tuhan, itu beneran lebih halus dari tepung maizena. Jadi dilema hidup: mau ngalir lembut di pasir terhalus dunia atau ngalir darah karena lupa narik uang di Tual.

Pasir Ngurbloat: Klaim “Terhalus di Dunia” itu Beneran?

Saya skeptis. Setiap pantai di Indonesia ngaku-ngaku punya pasir paling halus. Tapi pas telapak kaki pertama nyemplung? Langsung mikir, “Oke, ini lain level.”

Butiran pasirnya kayak bubuk tabur kue. Bukan halus-halus aja, tapi lembut. Nggak ada kerikil nyenggol. Nggak ada pecahan koral menusuk. Cuma sensasi nyaman yang bikin pengen jalan-jalan terus, meski matahari ngajak tarung.

Pernah coba genggam? Pasirnya nggak lengket. Jatuh perlahan kayak pasir waktu di jam pasir. Katanya sih, tingkat kehalusannya 95% butiran berdiameter 0.15-0.25 mm. Angka-angka sih gitu, tapi yang pasti: ini nggak kayak pasir biasa. Ini kayak dipeluk sama alam.

ATM? Lebih Langka dari Sinyal di Tengah Laut

Ingat tadi bilang ngak ada ATM? Ini bukan lebay. Pulau Kei Kecil beneran cuma punya satu ATM di Langgur – dan itu pun sering down. Saya sendiri nyari ATM sampe muter-muter tiga kali, cuma buat nemuin tulisan “Maaf, mesin sedang maintenance.”

Baca:  Raja Ampat Low Budget: Review Homestay Di Piaynemo Vs Resort Mewah

Pengalaman pahit: saya ngira ada ATM di Ohoililir, desa terdekat Ngurbloat. Nyampe sana, yang ada cuma warung abang-abang yang ngasih tau, “ATM cuma di Langgur, mas. Kalau down, ya down semua.”

Pro tip: Narik uang di Tual (Pulau Kei Besar) SEBELUM naik kapal ke Kei Kecil. Kalau sudah sampe sini dan ATM down, satu-satunya pilihan adalah minta transfer ke warga lokal – yang tentu aja ngasih rate tukar “spesial” buat turis panik.

Fasilitas Lain: Jangan Harap Terlalu Banyak

Ngurbloat itu alami banget. Bukan alami Instagramable, tapi alami beneran. Bikin kamu mikir, “Ini aja yang ada, ya?”

Yang pasti ada:

  • Warung kecil di bibir pantai (cuma 2-3 buah)
  • Homestay sederhana dengan harga Rp 150-300 ribu/malam
  • Air mineral dan snack (harga wajar, untungnya)
  • Parkir motor (gratis, tapi cuma lapangan kosong)

Yang ngak ada:

  • Sinyal internet yang stabil (Telkomsel aja ngambang)
  • ATM (sudah dibahas, tapi emang penting banget)
  • Toilet umum yang proper (ada, tapi… ya gitu deh)
  • Jaringan listrik 24 jam (homestay pake generator)

Transportasi: Perjuangan Menuju Surga

Dari Bandar Udara Karel Sadsuitubun (Langgur), kamu butuh:

30 menit ojek ke Pelabuhan Tetoat (Rp 50-80 ribu)

15 menit speedboat ke Dullah (Rp 20 ribu)

45 menit motor ngelintasin jalan berlubang (Rp 70-100 ribu sewa motor/hari)

Total perjalanan sekitar 2 jam dengan kondisi mulus. Kalau hujan? Bisa 3 jam penuh perjuangan. Jalanan di Kei Kecil itu tantangan tersendiri – lubangnya bisa buat nampung ikan.

Cuaca & Waktu Terbaik: Kapan Harus Nyebur?

Best time: September – November. Airnya jernih, ombak tenang, langit biru tanpa drama.

Avoid: Desember – Maret. Angin barat datang ngajak ribut. Ombaknya gede, pasirnya beterbangan, kamunya bete.

Baca:  Pantai Likupang Minahasa Utara: Review Destinasi Super Prioritas (Akses & Sinyal)

Pagi hari (jam 6-9) adalah golden hour beneran. Airnya dangkal, warnanya gradient dari biru muda ke biru pekat. Dan yang penting: nggak panas gila.

Biaya & Budget: Siapin Duit Segede Apa?

Sebagai traveler berpengalaman, ini estimasi realistis buat 2 hari 1 malam:

KeteranganBiaya (Rp)
Sewa motor (2 hari)150.000
Homestay (1 malam)200.000
Makan 3x sehari100.000
Speedboat pulang-pergi40.000
Transport bandara70.000
Total560.000

Itu belum termasuk tiket pesawat dan uang darurat. Saran saya, bawa minimal 1 juta cash buat jaga-jaga. Lebih baik kelebihan daripada ngiler liat orang beli es kelapa tapi dompet minta ampun.

Kesimpulan: Pantai Ini Worth It Nggak?

Pertanyaan paling jujur: worth it nggak ngurus paspor lokal, terbang ke Tual, muter-muter pake motor, dan panik gara-gara ATM?

Yes. Sepuluh kali yes.

Ngurbloat bukan cuma pantai. Ini pengalaman. Ini cara alam ngajarin kamu buat slow down, bener-bener present, dan nikmatin hal sederhana: pasir halus di kaki, air jernih di depan mata, dan keheningan yang langka banget ditemuin di era notifikasi HP.

Warning: Kalau kamu tipe traveler yang butuh WiFi cepat, kafe aesthetic, dan ATM di setiap sudut, mending ke Bali aja. Tapi kalau kamu mau pantai yang nggak pernah kedengeran suara motor ngebut dan pasir yang lebih halus dari kasur hotel bintang lima? Ngurbloat nungguin kamu.

Cuma satu pesan terakhir: narik uang di Tual. Dua kali. Tiga kali kalau perlu. Karena percaya deh, nggak ada yang lebih menyedihkan daripada nangis di pantai terindah dunia cuma gara-gara lupa bawa cash.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Taman Laut Bunaken Manado: Kondisi Terumbu Karang Saat Ini (Review Jujur)

Jujur aja, sebelum nyemplung ke Bunaken bulan lalu, aku juga mikirnya sama…

Pantai Likupang Minahasa Utara: Review Destinasi Super Prioritas (Akses & Sinyal)

Jadi begini, gw baru aja pulang dari Likupang dan masih bingung campur…

Pantai Base-G Jayapura: Pondok-Pondok Santai Dan Kejernihan Air Laut Pasifik

Jayapura itu punya banyak pantai, tapi kalau kamu cari yang benar-benar beda—bukan…

Ora Beach Seram Maluku: Review Penginapan Ala Maldives & Biaya Transportasi Dari Ambon

Ora Beach itu ibarat cinta jarak jauh yang sering dilihat foto-fotonya di…